JAKARTA, NOVOX.ID – Harga Bitcoin (BTC), aset kripto dengan
kapitalisasi pasar terbesar di dunia, kembali menunjukkan volatilitas tajam
pada akhir pekan lalu.
Pada Minggu 25 Januari 2026, Bitcoin terpantau anjlok lebih
dari 2% ke kisaran US$ 88.000 dalam perdagangan global, memicu kekhawatiran
pelaku pasar dan investor ritel.
Penurunan ini dipicu oleh dua risiko utama yang dinilai
memengaruhi sentimen pasar crypto secara keseluruhan: tekanan makroekonomi
global dan tekanan teknikal dari sisi pasar itu sendiri.
Risiko pertama datang dari kondisi makroekonomi global yang masih belum stabil. Data ekonomi penting, terutama dari Amerika Serikat seperti angka inflasi, ekspektasi suku bunga, dan indikator pasar tenaga kerja terus menjadi fokus investor.
Ketidakpastian seputar kebijakan suku bunga The Federal
Reserve AS dapat menyebabkan pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati terhadap
aset berisiko tinggi seperti Bitcoin, yang pada gilirannya memicu aksi ambil
untung atau jual.
Ketidakpastian ini secara historis memperlemah minat
terhadap aset spekulatif dan mendorong modal berpindah ke aset yang dianggap
lebih aman, seperti emas.
Risiko kedua berkaitan dengan tekanan teknikal di dalam
pasar kripto itu sendiri. Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan
pola konsolidasi yang rapuh di bawah angka psikologis US$ 90.000–US$ 92.000.
Ketika harga tidak mampu menembus level resistance kunci
tersebut, momentum bullish menjadi lebih lemah, dan tekanan jual akan meningkat
dari posisi leveraged atau spekulatif. Ini membuat level support di kisaran US$
88.000–US$ 89.000 menjadi area yang rawan jika kepercayaan pasar melemah lagi.
Dua risiko tersebut berkontribusi pada tekanan pasar akhir pekan lalu, sehingga BTC sempat turun di bawah angka US$ 88.000 di beberapa bursa kripto global, kemudian memicu aksi jual lanjutan di instrumen derivatif seperti futures dan posisi leverage.
Harga Perak Cetak Rekor Baru, Investor Berburu Logam Mulia di Tengah Ketidakpastian The Fed
Ketika harga bergerak turun tajam, bursa-bursa digital
cenderung menutup posisi long berleveraged secara otomatis, yang malah
memperparah penurunan harga dalam jangka pendek.
Dinamika pasar ini menunjukkan salah satu karakteristik khas
Bitcoin: volatilitas yang tinggi yang dipengaruhi secara bersamaan oleh faktor
global (seperti kebijakan moneter) dan kondisi internal pasar aset digital itu
sendiri (seperti teknikal chart dan tekanan jual).
Sementara beberapa analis memandang level US$ 88.000 sebagai
zona harga jenuh jual jangka pendek, ada juga pandangan bahwa area ini bisa
menjadi titik konsolidasi sebelum Bitcoin kembali bergerak naik pada fase
berikutnya.
Investor kripto disarankan untuk mewaspadai faktor-faktor
risiko ini dan memantau indikator makro serta teknikal secara teliti.
Pergerakan Bitcoin ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan arah kebijakan suku bunga, terutama di pasar keuangan tradisional.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!