Geger IHSG Ambruk Tajam Rabu 28 Januari 2026, Ini Pemicu Tekanan Jual Masif Pasar Saham

Geger IHSG Ambruk Tajam Rabu 28 Januari 2026, Ini Pemicu Tekanan Jual Masif Pasar Saham

Ilustrasi Bursa Efek (Foto: Antara)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, ketika pasar domestik dilanda panic selling dan koreksi mendalam sejak awal jam perdagangan.

IHSG tercatat anjlok 416,23 poin atau sekitar 4,65% ke level 8.567,1 hingga siang hari, setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 6% pada pembukaan perdagangan.

Tekanan jual yang masif membuat atmosfer pasar saham Indonesia dipenuhi kepanikan investor, terutama setelah sentimen negatif global dan domestik semakin menguat.

Analis pasar menilai salah satu sumber sentimen negatif utama adalah pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan evaluasi free float atau porsi saham yang beredar di publik untuk sejumlah saham Indonesia.

Langkah ini dinilai menambah kekhawatiran investor global terhadap likuiditas dan transparansi pasar saham domestik, sehingga mendorong mereka melakukan aksi jual besar-besaran.

Menurut Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, pergerakan IHSG hari ini sangat dipengaruhi oleh pengumuman MSCI yang diumumkan Selasa (27/1/2026) malam waktu GMT.

Sentimen ini memicu kekhawatiran pelaku pasar sehingga market opening langsung dibuka dengan koreksi tajam sekitar 6,5%.

“Hal ini masih inline dengan teknikal yang kami sampaikan sebelumnya dan juga outlook kami, di mana IHSG hari ini memang masih rawan melanjutkan koreksi,” ujar Nafan.

Hal serupa juga disampaikan Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana yang menegaskan tekanan jual signifikan turut memperparah pelemahan pasar.

Ia menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham, terutama menghindari sementara emiten di luar kelompok konglomerasi yang selama ini cenderung lebih rentan terhadap tekanan pasar.

Selain faktor evaluasi MSCI, beberapa analis juga mencatat bahwa kondisi psikologis pelaku pasar termasuk kekhawatiran atas arah kebijakan global, seperti kebijakan suku bunga dan risiko ekonomi dunia turut memicu risk-off mode

Kondisi ini membuat investor enggan mengambil risiko dalam aset berisiko seperti saham, sehingga memilih mengalihkan modal ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi atau logam mulia.

Sejumlah laporan lain menyebut bahwa tekanan jual ini mencerminkan sentimen negatif lebih luas di pasar modal regional dan global.

Dalam situasi seperti ini, IHSG sangat rentan terhadap aksi ambil untung (profit taking), yang diperparah oleh kekhawatiran investor lokal terhadap perkembangan ekonomi makro domestik.

Meski demikian, beberapa broker dan analis tetap melihat peluang teknikal rebound pada sesi lanjutan, dengan catatan sentimen negatif mulai mereda dan data fundamental ekonomi menunjukkan perbaikan.

Investor yang bersikap jangka panjang dinilai dapat memanfaatkan koreksi tajam ini untuk mencari peluang beli selektif di saham-saham dengan fundamental kuat.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!