JAKARTA, NOVOX.ID - Harga saham PT Bumi Resources Tbk
(BUMI) kembali mengalami penurunan tajam (terjun bebas) pada sesi I perdagangan
saham Senin (2/2/2026), menunjukkan adanya tekanan kuat di pasar terhadap saham
emiten pertambangan besar yang dikenal sebagai salah satu saham paling likuid
di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada awal sesi perdagangan, saham BUMI bergerak signifikan
ke arah bawah setelah sebelumnya saham ini sempat mengalami koreksi di akhir
Januari.
Tekanan jual lanjutan diduga masih kuat dipengaruhi oleh
kombinasi sentimen negatif pasar dan aksi investor asing yang masih dominan
keluar dari posisi saham ini, meskipun ada beberapa investor domestik yang
mencoba merespons dengan membeli pada harga rendah.
Beberapa hari sebelumnya, laporan IDX mencatat bahwa saham BUMI beberapa kali mengalami rontok dan bahkan mentok pada level auto reject bawah (ARB) saat sesi perdagangan tengah pekan lalu, mencerminkan antrean jual yang membeludak di harga rendah dengan nilai mencapai triliunan rupiah.
Dalam perdagangan tersebut, antrean jual saham BUMI tercatat
mencapai puluhan juta lot, tetapi tetap ada sejumlah investor yang berani
menyerok (buy the dip) di tengah tekanan harga yang terus menurun.
Penurunan dan volatilitas harga saham BUMI ini tidak
terlepas dari sentimen pasar yang lebih luas, khususnya setelah indeks harga
saham gabungan (IHSG) sempat melemah tajam dan munculnya kekhawatiran atas
penilaian free float saham Indonesia oleh MSCI yang belum memberikan kabar
positif terkait peningkatan kelas saham BUMI di indeks global.
Kekhawatiran tersebut telah memicu aksi ambil untung
besar-besaran yang memperkuat tekanan jual di saham emiten batu bara tersebut.
Selain itu, tekanan jual asing secara konsisten juga menjadi
faktor yang memperburuk kondisi saham BUMI. Investasi asing yang banyak dilepas
sejak akhir tahun lalu terus memberi tekanan negatif pada harga saham, meskipun
beberapa periode ada net buy oleh investor domestik maupun asing.
Aksi jual oleh investor global dan institusional ini
mendorong penurunan harga yang berulang, bahkan setelah saham sempat mengalami
tren penguatan di beberapa pekan sebelumnya.
Investor pun kini berada dalam dilema, antara menunggu potensi pembalikan harga yang bisa terjadi jika sentimen pasar berubah, atau melanjutkan aksi jual untuk mengurangi risiko kerugian lebih besar.
Kondisi ini menunjukkan tingginya volatilitas dan risiko
pasar pada saham BUMI, terutama ketika terjadi perubahan besar dalam persepsi
pasar dan arus modal asing.
Analis pasar menyarankan investor untuk tetap memperhatikan
faktor fundamental perusahaan seperti prospek harga batu bara, rencana ekspansi
bisnis, serta strategi korporasi BUMI sekaligus memantau perkembangan indikator
pasar makro yang dapat mempengaruhi harga saham.
Secara teknikal, saham BUMI saat ini masih dalam fase
tekanan dalam jangka pendek meskipun secara jangka panjang volatilitas tinggi
juga membuka peluang rebound jika sentimen pasar kembali positif dan arus modal
masuk meningkat.
Para pelaku pasar memperhatikan bahwa tindakan serok saham
pada level rendah bisa mencerminkan kepercayaan investor tertentu terhadap
fundamental jangka panjang BUMI, tetapi tekanan jual yang kuat tetap menjadi
satu risiko serius di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang belum stabil.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!