JAKARTA, NOVOX.ID - Nilai tukar rupiah memulai perdagangan awal pekan dengan tekanan. Pada pembukaan perdagangan Senin 29 Desember 2025, rupiah tercatat melemah 0,14 persen ke posisi Rp16.768 per dolar Amerika Serikat (AS), lebih rendah dibandingkan penutupan Jumat 26 Desember 2025 yang berada di level Rp16.745 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut terjadi seiring pergerakan mayoritas mata uang Asia yang cenderung melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand terkoreksi 0,38 persen, sementara yen Jepang justru menguat 0,23 persen. Di sisi lain, dolar Singapura naik tipis 0,07 persen dan won Korea Selatan menguat 0,50 persen.
Di tengah tekanan terhadap mata uang kawasan, indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia tercatat melemah tipis sebesar 0,01 persen ke level 97,69.
Baca juga: Kemenhub Pastikan Arus Mudik Natal 2025 Aman dan Lancar
Meski tertekan terhadap dolar AS, rupiah menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang global lainnya. Rupiah tercatat menguat 0,22 persen terhadap poundsterling Inggris ke level Rp22.639, menguat 0,17 persen terhadap euro ke posisi Rp19.528, serta naik 0,20 persen terhadap dolar Australia ke level Rp11.264.
Analis pasar keuangan Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut, terutama dipengaruhi oleh prospek kebijakan pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI).
“Rupiah juga diperkirakan akan bergerak volatil di tengah minimnya volume perdagangan pada akhir tahun,” ujarnya, Senin 29 Desember 2025.
Ia memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang perdagangan hari ini akan berada dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Baca juga: Purbaya: Insentif Bukan Solusi, Penguatan Demand Kunci Tekan PHK
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!