Fenomena Pacaran Virtual di Kalangan Anak Muda, Ungkap Plus Minusnya

Fenomena Pacaran Virtual di Kalangan Anak Muda,  Ungkap Plus Minusnya

Ilustrasi pacaran virtual melalui dating apps (foto: website/ The Guardians)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID -   Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital, pacaran kini banyak berlangsung secara virtual di kalangan anak muda, namun kemudahan ini juga menyimpan risiko yang perlu diwaspadai.

“Baik pacaran langsung maupun virtual, keduanya memiliki potensi risiko yang perlu dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang,” ujar Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus peneliti bidang Gender dan Anak, Putri Aisyiyah Rachma Dewi, S.Sos., M.Med.Kom, mengutip dari laman resmi UNESA, Senin 19 Januari 2026.

Dia menjelaskan bahwa pacaran virtual merupakan hubungan yang lebih banyak berlangsung di ruang digital melalui chat, panggilan suara, atau video call dibandingkan pertemuan langsung. 

Menurutnya, rasa nyaman dan kebebasan membentuk citra diri di dunia maya membuat model hubungan ini diminati, meski tetap memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan.

Meski demikian, Putri menegaskan bahwa pacaran virtual tetap memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan. 

Salah satu risiko terbesar dari pacaran virtual adalah jejak digital yang sulit dihapus. Konten pribadi seperti foto, video, atau percakapan dapat tersimpan dan berpotensi disalahgunakan di kemudian hari.

 “Jejak digital akibat pacaran virtual inilah yang harus benar-benar dipikirkan oleh anak-anak muda saat ini,” tegas Kepala Sub Direktorat Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual UNESA, Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H. mengutip dari laman resmi UNESA, Senin, 19 Januari 2026.

Iman menekankan bahwa jejak digital sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.

Selain itu, pacaran virtual juga berisiko memicu kekerasan seksual berbasis digital. Dalam beberapa kasus, konten pribadi dijadikan alat pemerasan, ancaman, atau paksaan yang berdampak besar secara psikologis, terutama bagi perempuan.


Berikut sejumlah risiko pacaran virtual yang perlu diperhatikan:

- Jejak digital sulit dihapus, sehingga dapat membahayakan di masa depan.

- Penyalahgunaan konten pribadi, seperti foto atau video yang digunakan untuk pemerasan.

- Kekerasan seksual berbasis digital, termasuk paksaan mengirim konten intim.

- Risiko hukum, karena penyebaran konten tanpa izin dapat dijerat UU PPKS, UU Pornografi, dan UU ITE.

- Identitas tidak autentik, yang membuka peluang manipulasi dan penipuan emosional.

- Tekanan psikologis, seperti kecemasan, ketergantungan emosional, dan rasa takut kehilangan.

Kelebihan dan Kekurangan Pacaran Virtual

Pacaran virtual melalui aplikasi kencan memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami sebelum dijalani secara lebih serius.

Mengutip dari Eharmony, berikut kelebihan dan kekurangan pacaran virtual:

Kelebihan Pacaran Virtual

- Menjadi cara umum bertemu pasangan, seiring meningkatnya penggunaan aplikasi kencan sebagai ruang pertemuan awal hubungan romantis.

- Lebih efisien dan praktis, karena memungkinkan pengguna mengenal banyak calon pasangan tanpa batasan tempat dan waktu.

- Memberikan kontrol lebih besar, pengguna dapat menentukan preferensi dan tujuan hubungan secara terbuka sejak awal.

- Mengurangi tekanan sosial, terutama bagi individu yang cenderung pemalu atau tidak nyaman memulai interaksi secara langsung.

- Didukung teknologi pencocokan modern, yang membantu mempertemukan individu berdasarkan minat, nilai, dan kepribadian.

Kekurangan Pacaran Virtual

- Berpotensi menemui profil palsu, meski jumlahnya relatif kecil, namun tetap membuka risiko penipuan dan manipulasi.

- Memudahkan distorsi identitas, seperti penggunaan foto lama atau informasi pribadi yang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan.

- Rentan kesalahan bagi pengguna baru, terutama dalam membangun profil dan berkomunikasi secara tepat di ruang digital.

- Dapat menimbulkan tekanan psikologis, seperti rasa tidak percaya diri akibat penolakan, ghosting, atau minimnya respons.

- Berisiko menciptakan kelelahan emosional, terutama akibat terlalu banyak pilihan yang justru menyulitkan pengambilan keputusan.


Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!