JAKARTA, NOVOX.ID - Kesehatan jantung tidak semata-mata dipengaruhi oleh kondisi fisik, tetapi juga sangat berkaitan dengan tekanan emosional berat. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai sindrom patah hati atau Broken Heart Syndrome.
Sindrom patah hati merupakan gangguan sementara ketika sebagian otot jantung mengalami pelemahan secara mendadak. Kondisi ini umumnya dipicu oleh stres emosional atau fisik yang sangat intens.
Pelemahan otot jantung tersebut menyebabkan fungsi pemompaan jantung menurun, sehingga aliran darah dan pasokan oksigen ke seluruh tubuh ikut terdampak.
Mengacu pada Cleveland Clinic, sindrom ini memiliki beberapa sebutan medis. Perbedaan istilah tersebut berkaitan dengan pola gangguan kontraksi otot jantung yang terlihat saat pemeriksaan.
Beberapa istilah lain untuk sindrom patah hati antara lain:
-
Takotsubo cardiomyopathy
-
Stress cardiomyopathy
-
Apical ballooning cardiomyopathy
Selain nama yang beragam, sindrom patah hati juga dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan area jantung yang terdampak. Setiap tipe menunjukkan karakteristik kontraksi jantung yang berbeda.
Jenis sindrom patah hati meliputi:
-
Apical, tipe paling umum yang menyerang bagian bawah jantung
-
Mid-ventricular, memengaruhi bagian tengah bilik jantung
-
Basal, tipe yang jarang terjadi dan mengenai bagian atas bilik jantung
-
Focal, tipe paling langka dengan area gangguan terbatas
Gejala sindrom patah hati biasanya muncul secara tiba-tiba. Penderitanya sering merasakan nyeri dada yang menyerupai serangan jantung.
Meski gejalanya mirip, sindrom ini hanya memengaruhi sebagian otot jantung. Pada umumnya, pembuluh darah jantung tidak mengalami penyumbatan total seperti pada serangan jantung.
Hingga kini, penyebab pasti sindrom patah hati belum sepenuhnya dipahami. Namun, lonjakan hormon stres seperti adrenalin diyakini berperan besar dalam melemahkan otot jantung secara sementara.
Peristiwa emosional atau fisik yang berat kerap menjadi pemicu utama. Respons tubuh terhadap stres ekstrem dapat memengaruhi fungsi jantung secara mendadak.
Beberapa pemicu sindrom patah hati antara lain:
-
Kehilangan orang terdekat atau tekanan emosional berat
-
Penyakit mendadak atau tindakan operasi besar
-
Cedera serius atau konflik emosional yang intens
-
Konsumsi obat tertentu atau zat terlarang
Dari sisi risiko, sindrom ini lebih sering dialami kelompok tertentu. Faktor usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan mental turut berperan.
Faktor risiko sindrom patah hati meliputi:
-
Perempuan
-
Usia di atas 50 tahun
-
Riwayat gangguan kecemasan atau depresi
Sebagian besar penderita dapat pulih sepenuhnya dalam waktu relatif singkat tanpa efek jangka panjang. Namun, pada beberapa kasus, sindrom patah hati berpotensi menimbulkan komplikasi.
Kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
-
Gangguan irama jantung
-
Tekanan darah rendah
-
Gagal jantung sementara
-
Penumpukan cairan di paru-paru
Untuk mencegah kekambuhan, penanganan jangka panjang dan pengelolaan stres menjadi hal yang penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain:
-
Rutin berolahraga
-
Melakukan latihan relaksasi atau mindfulness
-
Menjaga dukungan sosial dan emosional
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!