JAKARTA, NOVOX.ID - Harga Bitcoin (BTC), aset kripto
dengan kapitalisasi terbesar di dunia, diproyeksikan menguat kembali dan berada
pada tren bullish di awal 2026 seiring meredanya reli harga emas dan
perubahan preferensi investor terhadap aset berisiko. Meskipun secara harga BTC
sempat terkoreksi tipis, analis melihat potensi kenaikan lanjut jika faktor
fundamental dan teknikal mendukung pergerakan tersebut.
Dalam beberapa waktu terakhir, pasar kripto mengalami
dinamika yang menarik. Reli emas yang meningkat tajam pada akhir 2025 membuat
sebagian investor beralih ke aset seperti logam mulia sebagai instrumen safe
haven, sementara Bitcoin sempat mengalami tekanan jual dan sideways. Namun,
saat reli emas mulai mereda, modal investor pun kembali mengalir ke aset kripto
termasuk BTC, yang kemudian memperkuat sentimen kenaikan harga.
Para analis menilai bahwa meskipun harga Bitcoin menunjukkan koreksi minor, struktur pasar masih menunjukkan tanda-tanda bullish. Sentimen positif juga terlihat dari pergerakan pasar kripto global, di mana Bitcoin kembali menembus kisaran harga di dekat US$ 93.000–US$ 94.000 dalam perdagangan awal Januari 2026, mencerminkan pemulihan setelah tekanan jual sebelumnya.
Target harga jangka menengah hingga panjang diperkirakan
tetap menarik bagi para investor, terutama jika Bitcoin berhasil membentuk pola
teknikal yang kuat. Pola cup-and-handle yang sering disebut analis
teknikal menunjukkan kemungkinan terjadinya breakout bullish lanjutan,
yang bisa mendorong harga menuju level lebih tinggi jika berhasil tembus
resistance signifikan.
Selain itu, data pasar menunjukkan bahwa arus masuk dan
aktivitas investor jangka panjang (holder) masih cukup kuat. Meskipun
dinamika harga harian bisa berfluktuasi, tingkat akumulasi oleh pemegang BTC
besar (whales) dan tren dominasi Bitcoin di pasar kripto mendukung
keyakinan bahwa momentum kenaikan masih belum hilang.
Namun, risiko tetap ada. Bitcoin dikenal memiliki volatilitas tinggi, dan pergerakan harga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk sentimen makroekonomi global, keputusan kebijakan moneter bank sentral seperti The Fed, serta data ekonomi besar dari negara maju. Selain itu, pergerakan harga emas sebagai aset safe haven juga bisa berdampak pada aliran modal investor.
Beberapa prediksi pasar menyebutkan bahwa jika Bitcoin
berhasil mempertahankan level support penting di sekitar US$ 89.000–US$ 90.000
dan mampu menembus resistance psikologis di atas US$ 100.000, potensi bullish
bisa semakin kuat. Target target harga jangka menengah bahkan menyentuh kisaran
lebih dari US$ 104.000 atau lebih tinggi jika momentum positif berlanjut.
Sentimen pasar yang berkembang juga didukung oleh berbagai
laporan eksternal yang menunjukkan bahwa crypto mulai kembali menarik perhatian
investor institusional setelah periode kehati-hatian di akhir 2025. Hal ini
memberi peluang bagi Bitcoin untuk kembali menjadi aset risk on yang
diminati, terutama ketika relasi antara harga logam mulia dan aset digital
mulai bergeser lagi.
Secara keseluruhan, sementara Bitcoin menghadapi fase
konsolidasi jangka pendek, potensi kenaikan jangka menengah hingga panjang
masih terbuka lebar. Investor dan pelaku pasar pun terus mencermati
perkembangan teknikal serta sentimen pasar global untuk membaca arah
selanjutnya dari pergerakan harga BTC di tahun 2026.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!