JAKARTA, NOVOX.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026,
menandakan sentimen pasar yang mulai bergerak positif di awal pekan ini.
Penguatan tersebut terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik global dan
minat investor terhadap aset berisiko yang meningkat.
Menurut data Bloomberg yang dipantau di pasar spot exchange
pada pukul 09.03 WIB, rupiah menguat sekitar 4 poin atau 0,002% ke level
Rp16.736 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat yang
mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat sedikit naik
sekitar 0,04% ke level 98,3.
Pergerakan rupiah ini menjadi pembalikan arah setelah pada penutupan perdagangan Senin, 5 Januari 2026, rupiah sempat mengalami pelemahan sekitar 15 poin atau setara 0,09% ke level Rp16.740 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS dan kekhawatiran pasar terhadap dinamika geopolitik global pada pekan sebelumnya.
Dalam ulasan pasar, peredaan sentimen negatif geopolitik menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah. Kekhawatiran pasar terhadap aksi militer dan ketidakpastian politik sebelumnya membuat investor cenderung mencari aset safe haven seperti dolar AS.
Namun seiring dengan meredanya ketegangan, investor kembali melirik aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah, yang mendorong permintaan terhadap rupiah meningkat hari ini.
Analis pasar menyatakan bahwa meskipun penguatan rupiah terjadi, pergerakan ini masih terlihat cukup tipis dan perlu didukung data ekonomi domestik yang lebih kuat untuk mempertahankan tren positif. Faktor-faktor seperti neraca perdagangan, aliran modal asing, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Strategis mata uang National Australia Bank, Rodrigo Catril,
mengatakan pasar saat ini relatif tenang menghadapi dinamika geopolitik.
“Pasar tidak terlalu khawatir dengan perkembangan
geopolitik, setidaknya dalam jangka pendek. Kondisi ini mengurangi daya tarik
aset safe haven dan membuat dolar AS cenderung tertekan,” ujarnya.
Sentimen global juga tetap memainkan peran penting. Indeks
dolar yang stabil menandakan bahwa tekanan pada mata uang negara berkembang
tidak sepenuhnya hilang, namun preferensi pelaku pasar yang kembali kepada
instrumen berisiko telah membantu memperbaiki posisi rupiah sepanjang
perdagangan pagi ini.
Beberapa pengamat bahkan melihat peluang bahwa rupiah bisa
terus menguat jika ekspektasi investor terhadap aktivitas ekonomi global dan
domestik membaik, serta jika Bank Indonesia mempertahankan kebijakan moneter
yang mendukung stabilitas kurs. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi pelaku
usaha, eksportir, dan importir dalam merencanakan strategi keuangan mereka
menjelang kuartal pertama 2026.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah pada Selasa ini mencerminkan respons pasar terhadap berkurangnya ketidakpastian dan meningkatnya optimisme terhadap aset berisiko, meskipun tantangan eksternal masih relevan untuk dipantau.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!