JAKARTA, NOVOX.ID - Isu mengenai dugaan campur tangan PSSI dalam kepindahan sejumlah pemain diaspora ke kompetisi domestik belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian pihak menilai banyaknya pemain keturunan Indonesia yang merapat ke klub Tanah Air merupakan bagian dari strategi federasi agar proses pemanggilan ke Tim Nasional menjadi lebih mudah, terutama menjelang ASEAN Championship 2026.
Namun anggapan tersebut dibantah tegas oleh Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga. Ia menilai tudingan itu tidak berdasar dan cenderung mengarah pada spekulasi yang mengabaikan mekanisme profesional dalam industri sepak bola.
Menurut Arya, perpindahan pemain sepenuhnya berada di tangan klub dan pemain sebagai hubungan bisnis. Federasi tidak memiliki peran dalam pembiayaan maupun negosiasi kontrak.
“Ini terlalu banyak teori konspirasi. Padahal urusannya sederhana, ini soal pasar dan uang. Yang membayar pemain itu klub, bukan PSSI,” kata Arya dikutip NOVOX.ID dari tvrinews.com Selasa 10 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa PSSI tidak memiliki kewenangan untuk terlibat dalam urusan transfer atau memberikan bantuan dana kepada klub demi mendatangkan pemain tertentu. Karena itu, ia menilai tuduhan adanya skenario khusus untuk kepentingan turnamen internasional sangat tidak masuk akal.
“PSSI tidak ikut-ikutan bayar. Tidak ada urusan bayar-membayar di situ. Jadi lucu kalau dibilang ada skenario PSSI untuk kepentingan turnamen seperti AFF (Piala ASEAN),” ujar Arya.
Lebih lanjut, Arya menjelaskan bahwa dalam praktik sepak bola global, federasi pada umumnya tidak pernah ikut menanggung biaya transfer pemain klub. Sistem tersebut murni menjadi tanggung jawab masing-masing tim profesional.
“Di dunia enggak ada federasi ikut bayarin klub. Dari mana uangnya? Enggak pernah terjadi seperti itu,” ucap Arya.
Ia juga menilai keputusan para pemain diaspora untuk berkarier di Indonesia didasari pertimbangan profesional, seperti nilai kontrak, peluang bermain, dan prospek kompetisi. Bukan karena arahan atau skenario tertentu dari federasi.
“Kalau harga enggak cocok, ya enggak jadi. Sesederhana itu. Pemain juga enggak mau nurunin harga cuma demi skenario yang enggak jelas,” tutur Arya.
Melihat berkembangnya opini yang dianggap menyesatkan, Arya mengingatkan publik agar lebih rasional dalam menilai persoalan dan memahami cara kerja industri sepak bola sebelum menyebarkan asumsi.
“Silakan berpendapat, tapi pakai logika. Jangan bikin asumsi yang enggak masuk akal,” kata Arya.
Saat ini sejumlah pemain diaspora memang tercatat memperkuat klub-klub Super League Indonesia. Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Dion Markx membela Persib Bandung. Persija Jakarta diperkuat Jordi Amat, Shayne Pattynama, Mauro Zijlstra, serta Cyrus Margono. Sementara Rafael Struick dan Ivar Jenner bergabung dengan Dewa United Banten, dan Jens Raven berseragam Bali United.
Di sisi lain, Timnas Indonesia tengah bersiap menghadapi ASEAN Championship 2026. Skuad Garuda berada di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang play-off antara Brunei Darussalam atau Timor Leste. Turnamen tersebut juga akan menjadi momen debut John Herdman sebagai pelatih kepala, dengan jadwal pertandingan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026 menggunakan sistem kandang dan tandang.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!