JAKARTA, NOVOX.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat
(AS) kembali mengalami tekanan signifikan di pasar valuta asing global dan
mencatat level terendah dalam dua pekan terakhir.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran
investor yang terus memantau ancaman kebijakan tarif perdagangan baru yang
dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang memicu kekhawatiran
potensi perang dagang dan ketidakpastian ekonomi global.
Penurunan dolar ini mencerminkan reaksi pasar terhadap
ekspektasi yang berubah di tengah kebijakan fiskal dan perdagangan AS yang
dipandang oleh pelaku pasar sebagai faktor risk-off yakni preferensi investor
menuju aset yang lebih aman di luar mata uang AS.
Menyusul ancaman pemberlakuan tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang utama, permintaan terhadap dolar menurun sementara mata uang lain seperti euro dan pound sterling mengalami penguatan relatif terhadap greenback.
Pasar finansial kini dipengaruhi oleh sentimen geopolitik
yang makin intens. Ancaman tarif yang diumumkan oleh Trump terhadap mitra
dagang utama seperti negara-negara Eropa dalam konteks sengketa geopolitik
tertentu telah memicu aksi jual aset-aset AS termasuk mata uang dolar karena
investor bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi kebijakan proteksionis.
Pelemahan dolar ini juga turut mencerminkan sell America
trade, yaitu fenomena di mana investor melepas aset AS karena kekhawatiran
terhadap prospek ekonomi dan dukungan kebijakan yang dinilai kurang stabil.
Dolar yang anjlok ke level terendah dua pekan ini turut
diikuti oleh kenaikan indeks saham global pada beberapa pasar utama, karena
sejumlah investor mencari aset berisiko setelah harga aset berisiko lain
mengalami beberapa reli.
Namun, secara umum, indikator volatilitas pasar tetap berada
di level tinggi akibat gejolak kebijakan perdagangan terbaru, sehingga kurs
valas masih akan fluktuatif dalam jangka pendek.
Selain pergerakan dolar, tekanan pasar juga terlihat pada
imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menguat, serta gejolak di pasar saham
dan aset komoditas lainnya.
Sentimen ke depan masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian terkait negosiasi perdagangan dan langkah lanjutan pemerintah AS dalam memberlakukan atau menunda kebijakan tarif tertentu.
Beberapa analis mengatakan bahwa jika ketegangan perdagangan
mereda atau jika ada sinyal diplomatik positif antara Washington dan sekutu
dagang utama, dolar bisa kembali menguat meskipun masih ada ketidakpastian
global. Namun bila kebijakan tarif dijalankan secara luas dan berjangka
panjang, dollar mungkin menghadapi tekanan berkelanjutan, berpotensi memicu
pergeseran preferensi alokasi investasi global.
Menguat atau melemahnya dolar AS juga berdampak langsung
terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik. Pada saat dolar
melemah, rupiah cenderung mengalami apresiasi relatif, tetapi di tengah situasi
pasar global yang bergejolak, fluktuasi tetap tinggi dan pelaku pasar tetap
waspada terhadap sentimen global yang terus berubah.
Implikasi kuat atau lemahnya dolar terhadap ekonomi
Indonesia juga bergantung pada kondisi neraca perdagangan dan arus modal asing
yang masuk atau keluar dari pasar modal domestik.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!