Dolar AS Anjlok ke Level Terendah Dua Pekan, Tekanan Kebijakan Tarif Trump Membayangi Pasar

Dolar AS Anjlok ke Level Terendah Dua Pekan, Tekanan Kebijakan Tarif Trump Membayangi Pasar

Ilustrasi Dollar AS (Foto : iStockphoto)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan di pasar valuta asing global dan mencatat level terendah dalam dua pekan terakhir.

Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor yang terus memantau ancaman kebijakan tarif perdagangan baru yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang memicu kekhawatiran potensi perang dagang dan ketidakpastian ekonomi global.

Penurunan dolar ini mencerminkan reaksi pasar terhadap ekspektasi yang berubah di tengah kebijakan fiskal dan perdagangan AS yang dipandang oleh pelaku pasar sebagai faktor risk-off yakni preferensi investor menuju aset yang lebih aman di luar mata uang AS.

Menyusul ancaman pemberlakuan tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang utama, permintaan terhadap dolar menurun sementara mata uang lain seperti euro dan pound sterling mengalami penguatan relatif terhadap greenback.

Pasar finansial kini dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang makin intens. Ancaman tarif yang diumumkan oleh Trump terhadap mitra dagang utama seperti negara-negara Eropa dalam konteks sengketa geopolitik tertentu telah memicu aksi jual aset-aset AS termasuk mata uang dolar karena investor bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi kebijakan proteksionis.

Pelemahan dolar ini juga turut mencerminkan sell America trade, yaitu fenomena di mana investor melepas aset AS karena kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dan dukungan kebijakan yang dinilai kurang stabil.

Dolar yang anjlok ke level terendah dua pekan ini turut diikuti oleh kenaikan indeks saham global pada beberapa pasar utama, karena sejumlah investor mencari aset berisiko setelah harga aset berisiko lain mengalami beberapa reli.

Namun, secara umum, indikator volatilitas pasar tetap berada di level tinggi akibat gejolak kebijakan perdagangan terbaru, sehingga kurs valas masih akan fluktuatif dalam jangka pendek.

Selain pergerakan dolar, tekanan pasar juga terlihat pada imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menguat, serta gejolak di pasar saham dan aset komoditas lainnya.

Sentimen ke depan masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian terkait negosiasi perdagangan dan langkah lanjutan pemerintah AS dalam memberlakukan atau menunda kebijakan tarif tertentu.

Beberapa analis mengatakan bahwa jika ketegangan perdagangan mereda atau jika ada sinyal diplomatik positif antara Washington dan sekutu dagang utama, dolar bisa kembali menguat meskipun masih ada ketidakpastian global. Namun bila kebijakan tarif dijalankan secara luas dan berjangka panjang, dollar mungkin menghadapi tekanan berkelanjutan, berpotensi memicu pergeseran preferensi alokasi investasi global.

Menguat atau melemahnya dolar AS juga berdampak langsung terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik. Pada saat dolar melemah, rupiah cenderung mengalami apresiasi relatif, tetapi di tengah situasi pasar global yang bergejolak, fluktuasi tetap tinggi dan pelaku pasar tetap waspada terhadap sentimen global yang terus berubah.

Implikasi kuat atau lemahnya dolar terhadap ekonomi Indonesia juga bergantung pada kondisi neraca perdagangan dan arus modal asing yang masuk atau keluar dari pasar modal domestik. 

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!