JAKARTA, NOVOX.ID - Permintaan terhadap emas oleh
bank-bank sentral di seluruh dunia kembali menunjukkan tren yang kuat. Data
terbaru dari World Gold Council (WGC) menunjukkan bahwa pembelian emas oleh
bank sentral global meningkat pada November 2025, menegaskan peran logam mulia
ini sebagai instrumen cadangan penting dalam kondisi ekonomi yang penuh
ketidakpastian.
Menurut Kepala Riset Senior Asia-Pasifik (APAC) di WGC, Marissa Salim, total pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai 45 ton pada November 2025. Meskipun volume ini sedikit lebih lambat dibandingkan periode sama pada tahun-tahun sebelumnya, momentum pembelian emas tetap kuat dan menunjukkan minat institusi moneter terhadap logam berharga ini belum surut.
“Meskipun pembelian bersih yang dilaporkan hingga November tahun ini lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, momentum pembelian emas oleh bank sentral tetap relatif kuat," katanya.
Pembelian emas oleh bank sentral tampak terkonsentrasi pada
sejumlah negara dengan strategi diversifikasi cadangan yang agresif. Bank
Nasional Polandia menjadi salah satu pembeli terbesar, menambah cadangan
emasnya sebanyak 12 ton dan menjadikan total simpanan emasnya mencapai 543 ton,
atau hampir 28% dari total cadangan negaranya. Bank Sentral Brasil juga
memperluas kepemilikan emasnya untuk bulan ketiga berturut-turut, menambah 11
ton pada November lalu.
Selain kedua negara tersebut, negara lain seperti Uzbekistan (10 ton), Kazakhstan (8 ton), Kirgistan (2 ton), Republik Ceko (2 ton), serta Bank Rakyat China (1 ton) juga melaporkan penambahan kepemilikan emas mereka pada periode yang sama. Bank Indonesia pun turut menambah cadangan emasnya sebesar 1 ton, menunjukkan bahwa bank sentral di Asia juga melihat nilai strategis emas sebagai bagian dari portofolio cadangan mereka.
Permintaan emas oleh bank sentral sejatinya mencerminkan
keyakinan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) dan
sebagai alat diversifikasi cadangan yang efektif. Di tengah tekanan geopolitik
global, volatilitas pasar, serta potensi inflasi, emas sering dipandang
institusi moneter sebagai bentuk nilai cadangan tahan lama yang dapat
mengurangi risiko ketergantungan pada satu jenis mata uang dominan.
Tren ini juga konsisten dengan laporan lembaga internasional lainnya yang menunjukkan bahwa banyak bank sentral secara struktural meningkatkan kepemilikan emas mereka selama beberapa tahun terakhir, bahkan saat harga emas mencetak rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Aksi pembelian besar-besaran ini membantu menopang harga emas di pasar global dan menggarisbawahi pergeseran strategi cadangan moneter.
Namun, tidak semua bank sentral tercatat sebagai pembeli
bersih. Beberapa seperti Bank Sentral Yordania dan Bank Sentral Qatar
dilaporkan justru menjual sebagian cadangan emas mereka pada November 2025.
Meskipun demikian, mayoritas pembelian tetap didominasi oleh peningkatan
akumulasi emas di berbagai negara.
Secara keseluruhan, interest terhadap emas oleh bank sentral global menunjukkan bahwa logam mulia tetap menjadi komponen penting dalam strategi cadangan internasional, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan ketidakpastian geopolitik di era pascakrisis.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!