JAKARTA, NOVOX.ID - Harga logam perak global
mengalami koreksi tajam setelah reli yang sebelumnya melejit hingga di atas
level US$ 80 per troy ons, berbalik arah dan turun ke kisaran US$ 78,85 per
troy ons pada pembukaan perdagangan terbaru, menunjukkan tekanan pasar yang
kembali terasa di tengah aksi ambil untung (profit-taking) dan kondisi
makroekonomi yang berubah.
Menurut data dari laman Kitco, pada Kamis 8 Januari 2026 harga
perak dibuka menguat tipis dari level penutupan sebelumnya, tetapi tetap jauh
di bawah puncak yang diraih beberapa hari lalu, ketika logam putih itu pernah
mencapai posisi di atas US$ 80 per ons. Penurunan ini mencerminkan dinamika
pasar komoditas yang sangat volatile setelah reli panjang yang sempat membawa
perak ke level tertinggi dalam sejarahnya.
Perak termasuk salah satu komoditas yang paling mencuri perhatian investor tahun lalu karena performanya yang far outperform dibanding sebagian besar aset lain. Logam ini mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025, bahkan sempat menembus rekor tertinggi di atas US$ 80 per troy ons di akhir tahun lalu akibat kombinasi faktor permintaan safe-haven, spekulasi pasar, dan dukungan dari sektor industri yang terus meningkat.
Namun begitu, pasar kini menunjukkan fase cooling off
setelah rally panjang tersebut. Banyak pelaku pasar mulai melakukan profit-taking,
terutama ketika harga perak sudah mencapai level tinggi yang dianggap sangat
kuat secara teknikal. Tekanan jual ini menyebabkan harga turun cukup signifikan
dan memperlihatkan bahwa volatilitas logam mulia khususnya perak tetap tinggi.
Selain aksi ambil untung, pergerakan harga perak juga
dipengaruhi oleh sentimen global terkait kondisi ekonomi makro dan nilai tukar
mata uang utama seperti dolar Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, harga
komoditas yang dinilai dalam dolar cenderung melemah karena menjadi lebih mahal
bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan bisa menurun. Perak sangat
sensitif terhadap perubahan semacam ini karena selain berfungsi sebagai aset
safe-haven, perak juga memiliki peran besar dalam sektor industri seperti
elektronik dan energi terbarukan.
Meski terjadi penurunan dari puncak level tertinggi, beberapa analis pasar tetap melihat potensi jangka menengah bagi harga perak jika faktor fundamental seperti permintaan industri jangka panjang dan kekurangan pasokan tetap bertahan. Permintaan terhadap perak diperkirakan akan terus didukung oleh sektor teknologi, energi bersih, dan elektronik, yang semuanya membutuhkan logam ini dalam proses produksinya.
Emas Semakin Diminati Bank Sentral Global
Investor yang lebih jangka panjang melihat koreksi harga
sekarang sebagai fase konsolidasi yang sehat setelah rally ekstrem. Pasar logam
mulia sering kali mengalami retracement setelah kenaikan tajam, yang
dianggap normal dalam siklus komoditas. Namun, wave aksi ambil untung ini
menunjukkan bahwa perak dapat bergerak sangat cepat ke kedua arah, yang berarti
volatilitas tetap menjadi risiko utama bagi investor yang memasuki pasar logam
mulia saat ini.
Sejumlah pengamat juga mencatat bahwa pergerakan harga perak
akan terus dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, terutama keputusan suku
bunga dan arah inflasi di Amerika Serikat dan negara maju lainnya. Ekspektasi
pasar terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed pada 2026 ikut mendorong
minat terhadap logam mulia dalam jangka panjang, meskipun dampaknya terhadap
perak cenderung kompleks karena dimensi industrinya yang signifikan.
Dengan demikian, meskipun harga perak sempat ambles dari level US$ 80, dinamika pasar dan prospek fundamental menunjukkan keberlanjutan minat investor terhadap logam ini, terutama bagi mereka yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!