JAKARTA, NOVOX.ID – Masyarakat dan pelaku usaha di Iran
sedang menghadapi krisis digital yang parah setelah pemerintah memutuskan akses
internet nasional sejak 8 Januari 2026.
Langkah ini dilakukan di tengah gelombang protes
besar-besaran akibat krisis ekonomi dan sosial, namun dampaknya jauh lebih
luas, yakni telah melumpuhkan aktivitas ekonomi dan membuat banyak bisnis
terjun bebas dalam pendapatan.
Internet yang sejak lama menjadi tulang punggung
transaksi, periklanan, layanan digital dan komunikasi usaha kini hampir tak
berfungsi seperti biasa.
Menurut laporan AP News, shutdown ini merupakan internet blackout paling komprehensif dalam sejarah Iran, berdampak pada ribuan pelaku usaha yang mengandalkan platform digital seperti Instagram dan Telegram untuk pemasaran dan penjualan mereka.
Seorang pemilik toko hewan peliharaan di Teheran melaporkan penurunan
penjualan hingga sekitar 90% karena tidak bisa menjangkau pelanggan secara
online.
Biaya ekonomi dari pemutusan internet secara lengkap telah
mencapai angka yang sangat besar setiap harinya. Estimasi resmi pemerintah Iran
menyebut kerugian mencapai US$2,8 juta – US$4,3 juta per hari sejak pemadaman
dilakukan.
Namun menurut pemantauan yang dilakukan oleh lembaga
independen NetBlocks, total kerugian ekonomi bisa mencapai lebih dari
US$37 juta per hari, mengingat dampak yang luas terhadap transaksi digital,
periklanan, dan perdagangan elektronik.
Para analis ekonomi menekankan bahwa shutdown tidak hanya
memengaruhi usaha kecil online tetapi juga struktur fundamental perekonomian
Iran. Sebagian besar bisnis kecil dan menengah saat ini mengandalkan media
sosial serta perdagangan digital untuk mendapatkan pelanggan dan memproses
pembayaran.
Dengan akses internet yang dibatasi, tidak hanya pendapatan
merosot, tetapi kepercayaan konsumen terhadap stabilitas usaha ikut anjlok.
Shutdown internet ini bukan isu isolasi, langkah tersebut
merupakan bagian dari respons pemerintah terhadap protes anti-pemerintah yang
meletus akibat masalah ekonomi termasuk pelemahan tajam nilai mata uang rial
dan lonjakan biaya hidup.
Kurs rial yang jatuh hingga lebih dari 1,4 juta per dolar AS
telah memicu inflasi tinggi dan ketidakpuasan publik yang meluas. Perubahan
kebijakan harga bahan bakar yang memperburuk tekanan hidup juga memperlebar
amarah masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha tidak hanya kehilangan akses ke pasar online tetapi juga menghadapi penurunan permintaan konsumen secara umum, karena warga lebih fokus pada kebutuhan pokok daripada belanja barang atau jasa yang bisa ditunda. Tanpa adanya kepastian kapan layanan internet akan dipulihkan, ketidakpastian ekonomi yang timbul bisa memperburuk kondisi investasi di Iran jangka panjang.
Langkah shutdown tersebut juga memengaruhi sektor layanan
finansial, perbankan, serta komunikasi lintas negara yang telah mengalami
gangguan signifikan. Banyak bank, termasuk sistem ATM dan transfer digital,
mengalami masalah karena tidak dapat terhubung secara efektif ke jaringan
global.
Selain itu, penawaran domestik untuk menggantikan layanan
global belum mampu menggantikan akses yang hilang, sehingga bisnis tetap sangat
terganggu.
Para pelaku pasar dan analis internasional memperingatkan
bahwa dampak shutdown yang berlangsung lebih lama bisa memicu resesi digital
dan memperdalam krisis sosial.
Bahkan jika internet pulih, kembalinya ke tingkat aktivitas
ekonomi sebelum pemadaman bisa memakan waktu lama, apalagi dalam situasi
kepercayaan konsumen dan dunia usaha yang rapuh.
Dalam era yang bergantung pada konektivitas digital, langkah
pemerintah ini menjadi contoh ekstrem bagaimana pembatasan internet dapat
menghancurkan ekonomi lokal, memperlemah sektor usaha mikro dan makro, serta
menciptakan tekanan sosial serta politik yang lebih luas di mata dunia.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!