Menkomdigi Ingatkan Kolaborasi untuk Kelola Ruang Digital

Menkomdigi Ingatkan Kolaborasi untuk Kelola Ruang Digital

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (Foto: Instagram/@duniameutya)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa pengelolaan ruang digital tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Meutya menyebutkan, kebijakan di sektor digital hanya akan berdampak nyata apabila dijalankan secara bersama-sama serta diuji langsung melalui praktik di lapangan. Menurutnya, regulasi tanpa kepatuhan dan partisipasi berbagai pihak tidak akan efektif menghadapi dinamika ruang digital yang bergerak sangat cepat.

“Ruang digital bukanlah ruang yang bisa dijaga oleh satu pihak. Regulasi tidak akan bermakna tanpa kepatuhan, dan kebijakan tidak akan berdampak tanpa keterlibatan semua pihak. Karena itu, sinergi menjadi kunci utama, terutama di sektor digital yang perkembangannya sangat pesat,” ujar Meutya dalam keterangannya di Jakarta, dikutip NOVOX.ID dari Antara, Rabu 24 Desember 2025.

Baca juga: Telkomsel Bangun Posko Layanan, Bantu Recovery Pasca Bencana Sumatera

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya saat menghadiri ajang Digi Wave 2025 di Jakarta Pusat. Ia menjelaskan, forum Digi Wave dirancang sebagai ruang temu antara perumusan kebijakan pemerintah dan realitas di lapangan.

Menurutnya, Digi Wave tidak hanya menjadi ajang pemaparan capaian, tetapi juga sarana untuk membaca langsung berbagai tantangan konektivitas nasional berdasarkan pengalaman konkret para pelaku dan pemangku kepentingan di sektor digital.

Salah satu contoh nyata pentingnya kolaborasi lintas pihak terlihat dalam penanganan gangguan layanan telekomunikasi saat banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Dalam forum tersebut, Meutya menyampaikan apresiasi kepada Telkomsel, Indosat, dan XLSmart atas respons cepat sejak hari pertama bencana, serta komunikasi intensif yang terus dilakukan selama masa pemulihan jaringan.

“Yang kami nilai bukan sekadar laporan administratif. Tim langsung turun ke lapangan dan bergerak cepat. Ini menjadi contoh kolaborasi yang berjalan efektif,” ujar Meutya.

Hasil kerja sama tersebut tercermin dari progres pemulihan jaringan telekomunikasi. Layanan di Sumatera Barat telah pulih hingga 99 persen, sementara di Sumatera Utara mendekati 98 persen. Adapun di Aceh, pemulihan fisik infrastruktur telekomunikasi telah mencapai hampir 90 persen.

Baca juga: Telkomsel Bangun Posko Layanan, Bantu Recovery Pasca Bencana Sumatera

Meutya menegaskan, capaian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa proses pemulihan belum sepenuhnya rampung. Menurutnya, di balik setiap persentase pemulihan terdapat masyarakat yang sangat bergantung pada akses jaringan untuk berkomunikasi dengan keluarga, memperoleh informasi penting, hingga kebutuhan darurat.

“Angka-angka ini mengingatkan kita bahwa masih ada warga yang menunggu sinyal untuk tetap terhubung,” tegasnya.

Pengalaman langsung di lapangan tersebut, lanjut Meutya, menjadi bahan refleksi dalam perumusan kebijakan. Koordinasi daring harian antara pemerintah dan operator telekomunikasi tidak berhenti pada laporan teknis semata, melainkan difokuskan untuk memastikan layanan kembali aktif secepat mungkin di wilayah terdampak.

Di tengah pesatnya pertumbuhan industri digital dengan ragam pelaku dan layanan, Meutya menilai ekosistem digital yang terbuka dan inklusif menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan konektivitas nasional.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!