JAKARTA, NOVOX.ID - Sulawesi Tengah kini menjadi
sorotan utama dalam peta investasi nasional setelah ditetapkan sebagai provinsi
dengan realisasi investasi sektor hilirisasi terbesar di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani
mengatakan, tingginya investasi di sektor hilirisasi turut memberi
kontribusi pada pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Bahkan, pertumbuhan
ekonomi di wilayah tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini karena faktor hilirisasi dan ini juga terdampak pada
pertumbuhan ekonomi misalnya Sulawesi Tengah dimana saat pertumbuhan
ekonomi nasional 5% tetapi pertumbuhan ekonomi mereka mencapai 8%,” ucap Rosan
dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM,
Jakarta, Kamis, 15 Januari2026.
Data terbaru dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa realisasi investasi
hilirisasi di provinsi ini melampaui daerah lain, menjadikannya magnet baru
bagi investor yang ingin menanamkan modal di luar Pulau Jawa.
Investasi hilirisasi sendiri merupakan upaya strategis pemerintah untuk mengubah bahan baku menjadi produk dengan nilai tambah tinggi melalui proses industri di dalam negeri.
Fokus utama hilirisasi Indonesia tetap pada sumber daya alam, terutama nickel (nikel), yang menjadi komoditas unggulan dan dasar bagi industri logam dasar, baterai kendaraan listrik, serta produk turunan lainnya. Provinsi Sulawesi Tengah khususnya menjadi titik utama kegiatan hilirisasi mineral karena keunggulan cadangan nikel di wilayah Morowali Industrial Park (IMIP).
BKPM mencatat bahwa nilai investasi sektor hilirisasi yang
direalisasikan di Sulawesi Tengah selama periode investasi terakhir mencapai
angka yang menempatkan provinsi ini di puncak daftar nasional.
Hal ini terutama ditopang oleh masuknya modal asing yang
cukup besar di kawasan industri berbasis sumber daya mineral, termasuk industri
pengolahan nikel dan produk turunannya.
Performa Sulawesi Tengah ini juga mencerminkan pemerataan
investasi yang terus berlanjut di luar Pulau Jawa. Selama 2025, downstreaming
atau hilirisasi telah menjadi salah satu kontributor utama dalam realisasi
investasi nasional tumbuh signifikan dan menyumbang porsi besar dalam jumlah
total realisasi investasi.
Peningkatan investasi hilirisasi tidak hanya berdampak pada
angka investasi semata, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi lokal serta penyerapan
tenaga kerja.
Dengan hadirnya industri hilir, peluang kerja baru semakin terbuka bagi masyarakat Sulawesi Tengah di berbagai sektor dari tenaga kerja produksi hingga tenaga profesional berbasis teknologi industri.
Tak hanya itu, aktivitas investasi hilirisasi di Sulawesi
Tengah turut memperkuat struktur ekonomi daerah yang sebelumnya sangat
bergantung pada sektor primer.
Dengan adanya proses pengolahan sumber daya alam menjadi
produk bernilai tambah tinggi, provinsi ini berhasil meningkatkan kontribusinya
terhadap perekonomian nasional sekaligus memperkuat daya saing di tingkat
regional dan global.
Meskipun realisasi investasi hilirisasi di Sulawesi Tengah
menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada, terutama terkait peningkatan
infrastruktur, kebutuhan tenaga terampil yang lebih besar, serta keberlanjutan
sektor industri berbasis sumber daya alam.
Pemerintah daerah bersama BKPM terus berkoordinasi untuk
mengatasi hambatan tersebut agar investasi dapat terus meningkat secara
berkelanjutan dan menyebar ke sektor lain seperti pertanian, perikanan, serta
manufaktur ringan.
Dengan pencapaian ini, Sulawesi Tengah diproyeksikan tidak hanya menjadi pemimpin investasi hilirisasi di Indonesia, tetapi juga pusat pertumbuhan baru yang dapat mendukung transformasi ekonomi nasional di masa depan.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!