Anak Muda Mudah Insomnia? Berikut Penyebab dan Solusinya

Anak Muda Mudah Insomnia? Berikut  Penyebab dan Solusinya

Ilustrasi insomnia (Foto: Pinterest/Youth Health)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Insomnia kini menjadi masalah tidur yang kian sering dialami anak muda. Aktivitas yang padat, tekanan akademik maupun pekerjaan, serta kebiasaan bermain gawai hingga larut malam membuat waktu istirahat tidak optimal, meski tubuh sebenarnya membutuhkan pemulihan.

Kurang tidur tidak hanya menimbulkan rasa lelah, tetapi juga memengaruhi suasana hati, kemampuan berkonsentrasi, hingga kesehatan secara keseluruhan. Jika berlangsung terus-menerus, insomnia dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali. Akibatnya, meskipun durasi tidur terasa cukup, tubuh tetap merasa lelah dan tidak segar saat bangun.

Padahal, kebutuhan tidur telah memiliki standar yang dianjurkan berdasarkan usia. Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan RI, remaja usia 12–18 tahun disarankan tidur selama 8–9 jam per hari, sementara orang dewasa usia 18–40 tahun membutuhkan sekitar 7–8 jam tidur agar tubuh tetap sehat dan bugar.

Namun dalam praktiknya, tidak semua orang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagian hanya mengalami insomnia jangka pendek akibat stres atau kejadian tertentu, tetapi ada pula yang menghadapi insomnia kronis yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih dan memerlukan penanganan khusus.

Insomnia dapat dipicu oleh berbagai faktor yang sering kali tidak disadari. Pada anak-anak hingga remaja, kebiasaan tidur dan kondisi emosional menjadi penyebab yang cukup dominan.

Beberapa faktor pemicu insomnia yang umum antara lain kebiasaan tidur tertentu, seperti sulit tidur tanpa ditemani atau tanpa suara tertentu. Perilaku sebelum tidur yang kurang sehat, misalnya terlalu lama menatap layar ponsel atau tidak melakukan aktivitas relaksasi, juga dapat mengganggu kualitas tidur.

Masalah emosional seperti stres, kecemasan, dan depresi turut berperan besar. Faktor lingkungan, seperti kamar yang panas, bising, atau tidak nyaman, juga kerap menjadi pemicu. Selain itu, kondisi medis tertentu seperti asma, eksim, sleep apnea, sindrom kaki gelisah, serta penyakit yang mengganggu kenyamanan tidur, seperti flu atau infeksi telinga, dapat memperburuk insomnia.

Penggunaan obat-obatan tertentu yang meningkatkan kewaspadaan tubuh serta konsumsi kafein berlebihan dari kopi, teh, cokelat, minuman bersoda, dan minuman energi juga berkontribusi terhadap gangguan tidur.

Dari sisi gejala, insomnia tidak hanya dirasakan pada malam hari. Dampaknya sering muncul sepanjang hari dan memengaruhi aktivitas harian. Gejala yang umum meliputi sulit memulai tidur atau sering terbangun di malam hari, bangun terlalu pagi, serta rasa lelah dan mengantuk di siang hari.

Selain itu, penderita insomnia juga kerap mengalami perubahan suasana hati, mudah marah, cemas, atau sedih tanpa sebab yang jelas. Kesulitan fokus, mudah lupa, serta kekhawatiran berlebihan terkait tidur juga sering dirasakan.

Insomnia sendiri memiliki beberapa jenis, mulai dari kesulitan memulai tidur, tidak mampu mempertahankan tidur, hingga bangun terlalu dini.

Pencegahan insomnia dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari. Menjaga pola hidup sehat berperan penting dalam meningkatkan kualitas tidur. Mengatur pola makan yang lebih sehat dan teratur, rutin berolahraga atau melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit setiap hari, serta menghindari penggunaan gawai dan konsumsi kafein menjelang waktu tidur dapat membantu mencegah gangguan tidur.

Selain itu, menciptakan suasana kamar yang tenang, nyaman, dan mendukung proses istirahat juga menjadi langkah penting agar tubuh dapat tidur lebih nyenyak dan berkualitas.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!