JAKARTA, NOVOX.ID - Berat bagasi bukan sekadar persoalan biaya tambahan saat check-in, melainkan menyangkut keselamatan penerbangan secara keseluruhan. Setiap pesawat memiliki batas muatan tertentu yang tidak boleh dilampaui, karena kelebihan beban dapat berisiko terhadap performa dan keamanan saat terbang.
Total berat pesawat dihitung dari berbagai komponen, mulai dari bobot badan pesawat, bahan bakar, stok makanan, kargo, bagasi, hingga berat pilot, awak kabin, dan penumpang. Karena itu, maskapai penerbangan di seluruh dunia menerapkan aturan ketat terkait batas maksimal berat bagasi, baik yang masuk bagasi kargo maupun yang dibawa ke kabin.
Melansir The Independent, seorang mantan pilot mengungkapkan bahwa aturan pembatasan berat bagasi sudah lama diberlakukan sejak awal kariernya. Misalnya pada pesawat Boeing 737 yang memiliki kapasitas 150–299 kursi. Dalam perhitungannya, berat standar penumpang sudah diasumsikan, yakni sekitar 66,7 kilogram untuk perempuan dan 81,8 kilogram untuk laki-laki. Setiap penumpang biasanya dibatasi membawa bagasi kabin maksimal 7 kilogram.
Seiring munculnya maskapai berbiaya rendah yang mengenakan biaya tambahan untuk bagasi, banyak penumpang mengubah strategi dengan memaksimalkan tas kabin agar terhindar dari biaya ekstra. Tren ini membuat maskapai mulai memperketat aturan barang bawaan di kabin.
Sejak 2 Februari lalu, Virgin Australia memberlakukan kebijakan baru untuk penerbangan domestik, di mana penumpang kelas ekonomi hanya boleh membawa satu tas kabin dengan berat maksimal 8 kilogram. Qantas mengizinkan satu tas seberat 10 kilogram atau dua tas kecil dengan total 14 kilogram. Sementara Jetstar tetap pada batas 7 kilogram yang dibagi ke dalam dua tas.
Setiap maskapai memiliki kebijakan berbeda sesuai perhitungan muatan dan standar keselamatan masing-masing. Namun satu hal yang pasti, pengawasan terhadap berat bagasi kabin kini semakin ketat.
Selain faktor berat total pesawat, tas kabin yang terlalu berat juga menimbulkan tantangan di dalam pesawat. Awak kabin kerap menjadi pihak yang paling terdampak karena harus membantu penumpang mengangkat tas ke kompartemen atas. Tidak sedikit pramugari mengalami cedera akibat mengangkat tas yang melebihi batas wajar.
Tas berat juga menjadi penyebab kemacetan di kabin. Proses menaikkan dan menurunkan barang memakan waktu lebih lama, menyebabkan antrean penumpang, bahkan berpotensi menunda jadwal keberangkatan. Dalam situasi darurat, tas yang berat bisa menghambat evakuasi karena penumpang kesulitan mengambilnya dengan cepat.
Karena itu, pembatasan bagasi kabin bukan sekadar aturan administratif, melainkan bagian dari sistem keselamatan penerbangan. Penumpang pun diimbau untuk mematuhi batas yang telah ditentukan demi perjalanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!