Ganti Santan dengan Susu Lebih Sehat? Dokter Gizi Bongkar Faktanya

Ganti Santan dengan Susu Lebih Sehat? Dokter Gizi Bongkar Faktanya

Ganti Santan dengan Susu Lebih Sehat? Dokter Gizi Bongkar Faktanya (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Anggapan bahwa mengganti santan dengan susu selalu lebih sehat ternyata tidak sepenuhnya tepat. Meski banyak orang memilih susu demi menjaga berat badan dan kadar kolesterol, keputusan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata menjelaskan, santan berasal dari kelapa tua yang memiliki kandungan lemak jenuh cukup tinggi. Lemak jenuh inilah yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah. Jika kadar LDL tinggi dan berlangsung lama, risiko penyumbatan pembuluh darah atau aterosklerosis bisa meningkat.

“Kadar lemak jenuh dalam santan cukup tinggi. Santan yang terlalu kental tentu tidak baik untuk kesehatan dan juga karena mengandung banyak kalori, membuat kita menjadi gemuk,” kata Johanes, Selasa 10 Februari 2026.

Selain berdampak pada kesehatan jantung, santan kental juga menyumbang kalori besar yang berisiko meningkatkan berat badan jika dikonsumsi berlebihan. Terlebih dalam berbagai hidangan khas Indonesia, santan sering digunakan dalam jumlah cukup banyak.

Meski demikian, santan bukan berarti sepenuhnya lebih buruk dibandingkan susu. Johanes menegaskan bahwa susu sapi memiliki keunggulan dari sisi kandungan kalsium dan protein. Dalam satu gelas susu sapi, terkandung sekitar 500 mg kalsium, sementara kebutuhan kalsium wanita dewasa mencapai sekitar 1.200 mg per hari.

“Kita tahu kandungan susu sapi yang tinggi kalsium itu per gelasnya mengandung 500 mg kalsium. Kebutuhan kalsium wanita dewasa itu sekitar 1.200 mg kalsium per hari,” jelasnya.

Protein dalam susu juga lebih tinggi dibandingkan santan, sehingga bagi individu yang tidak memiliki intoleransi laktosa, konsumsi susu dapat memberikan manfaat gizi yang lebih optimal. Namun, persoalan muncul bagi masyarakat yang mengalami intoleransi laktosa, kondisi yang cukup umum terjadi pada populasi Asia.

“Dengan akibat kalau orang itu minum susu sapi, maka gula laktosanya tidak tercerna dengan baik, sehingga gula laktosa ini akan dibuang. Dan di usus dia akan menarik air dan difermentasi oleh bakteri, sehingga timbul keluhan-keluhan seperti kembung, banyak gas, kadang-kadang diare juga,” ujar Johanes.

Bagi kelompok ini, konsumsi susu justru bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Sementara santan bersifat bebas laktosa, sehingga tidak memicu gejala serupa.

Johanes pun mengingatkan agar konsumsi santan tetap dibatasi, terutama dari segi kekentalan dan jumlahnya. Ia mencontohkan kebiasaan saat Ramadhan, ketika masyarakat kerap mengonsumsi kolak dengan kuah santan dan gula dalam jumlah besar.

“Kalau kita hirup semua kuah dari kolak tersebut, tentunya akan menambah risiko untuk munculnya obesitas,” katanya.

Pada akhirnya, mengganti santan dengan susu tidak selalu menjadi solusi paling sehat bagi semua orang. Pilihan terbaik tetap bergantung pada kondisi tubuh, toleransi terhadap laktosa, serta jumlah dan frekuensi konsumsi. Baik santan maupun susu tetap perlu dikonsumsi secara bijak agar manfaatnya maksimal tanpa memicu risiko kesehatan.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!