JAKARTA, NOVOX.ID - Drama Korea Can This Love Be Translated? ramai diperbincangkan setelah penonton menyadari bahwa karakter Cha Mu-hee memiliki kepribadian lain bernama Do Ra-mi.
Alur cerita ini memancing rasa penasaran publik karena fenomena tersebut kerap disebut sebagai kepribadian ganda, sebuah kondisi yang selama ini sering disalahpahami sebagai sekadar konflik dramatis atau sensasi cerita.
Isu kepribadian ganda dalam drama ini tidak berdiri sebagai bumbu semata. Dalam dunia medis dan psikologi klinis, kondisi tersebut dikenal sebagai dissociative identity disorder (DID) atau gangguan identitas disosiatif. Kehadiran Cha Mu-hee dan Do Ra-mi membuat banyak penonton mulai bertanya, apakah kondisi ini benar-benar ada, bagaimana seseorang bisa mengalaminya, dan seberapa kompleks dampaknya dalam kehidupan nyata.
Gangguan identitas disosiatif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian yang berbeda dalam satu diri. Setiap identitas dapat memiliki cara berpikir, emosi, perilaku, bahkan ingatan yang tidak sama. Peralihan identitas sering kali disertai amnesia, sehingga penderitanya tidak mengingat apa yang dilakukan saat identitas lain mengambil alih kendali.
Akibatnya, penderita DID kerap merasa bingung, terlepas dari dirinya sendiri, atau seperti menjadi penonton dalam hidupnya sendiri. Kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dalam praktik klinis, gangguan identitas disosiatif dibedakan menjadi dua tipe utama. Tipe pertama dikenal sebagai possession atau kerasukan, di mana identitas lain muncul seolah berasal dari luar diri.
Perubahan perilaku terlihat jelas, mulai dari suara, ekspresi wajah, hingga cara berbicara, dan biasanya terjadi di luar kendali penderita. Tipe kedua adalah non-possession, di mana perubahan identitas tidak selalu disadari oleh orang lain. Penderitanya lebih sering merasakan keterasingan dari tubuh dan pikirannya sendiri.
Penyebab utama gangguan identitas disosiatif berkaitan erat dengan trauma berat, terutama yang dialami pada masa kanak-kanak.
Trauma tersebut bisa berupa kekerasan fisik, seksual, kekerasan emosional, kecelakaan, bencana alam, atau pengalaman traumatis lain yang berulang. Kondisi ini dipahami sebagai mekanisme bertahan hidup ketika otak memisahkan pengalaman traumatis agar rasa sakit emosional dapat ditoleransi.
Selain memiliki lebih dari satu identitas, penderita DID juga kerap mengalami sakit kepala, kehilangan ingatan, depresi, kecemasan, hingga dorongan menyakiti diri sendiri. Realitas ini menunjukkan bahwa kepribadian ganda bukanlah keunikan atau sensasi, melainkan kondisi kesehatan mental yang serius.
Melalui kisah Cha Mu-hee dan Do Ra-mi, Can This Love Be Translated? membuka ruang diskusi publik tentang kesehatan mental. Drama ini mengingatkan bahwa di balik cerita romantis, terdapat isu psikologis mendalam yang membutuhkan pemahaman, empati, dan penanganan yang tepat.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!