Pakar: Kanker Tidak Terjadi Karena Faktor keturunan

Pakar: Kanker Tidak Terjadi Karena Faktor keturunan

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof. Aru wicaksono Sudoyo ( foto: NOVOX/Bagas Satria)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Kanker hingga kini masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan karena belum ditemukan obat yang benar-benar spesifik. Data Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mencatat, jumlah pasien kanker di Indonesia mencapai sekitar 400 ribu orang setiap tahun, dengan angka kematian sekitar 240 ribu jiwa.

Angka tersebut setara dengan penambahan sekitar 650 kasus kanker baru setiap hari sepanjang tahun.

Sebagai negara berkembang, Indonesia juga mengalami peningkatan kasus kanker sebesar 30 persen, atau sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju.

Dalam diskusi kesehatan terkait kanker yang digelar di Jakarta, Rabu 4 Februari 2026, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. Aru Wicaksono Sudoyo, mengungkap sejumlah faktor penyebab kanker.

Menurut Prof. Aru, faktor keturunan memiliki peran yang sangat kecil dalam memicu kanker. “Seorang ibu sebagai wanita memang menurunkan genetik yang cukup besar ke anaknya, meskipun begitu, sel kanker tidak dapat menurun begitu saja ke anak,” jelas Prof. Aru.

Ia menambahkan bahwa kanker yang disebabkan oleh faktor keturunan atau familiar hanya terjadi pada sebagian kecil kasus. “Memang ada kasus di mana dalam satu keluarga (familiar) ada beberapa anggotanya yang mengalami kanker, tapi itu kansnya sangat kecil, hanya 5 sampai 10 persen saja bisa terjadi.”

Prof. Aru juga menjelaskan bahwa tubuh manusia sebenarnya memproduksi sel kanker setiap hari, namun sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk mengendalikan sel-sel tersebut. “Setiap hari ada satu juta peristiwa di mana sel tubuh berubah menjadi sel kanker, tapi kalau kita memiliki imun tubuh yang baik, hal tersebut masih berjalan normal,” tuturnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa faktor lingkungan dan gaya hidup jauh lebih berpengaruh dalam memicu kanker dibandingkan faktor keturunan. “Kalau gaya hidup kita jelek, imun kita tidak bisa bekerja dengan baik, oleh karenanya faktor environment lebih berperan daripada familiar atau keturunan untuk sel kanker ini,” tegasnya.

Selain faktor pemicu, Prof. Aru juga menekankan pentingnya deteksi dini kanker sejak usia muda sebagai upaya pencegahan di masa depan. “Kalau orang dewasa sudah mulai masuk usia 45 tahun, sudah harus mulai check-up. Jika ibu mengandung juga harus lebih cepat check-up-nya,” jelas Prof. Aru.

Ia menambahkan, deteksi dini juga perlu dilakukan pada anak-anak. “Khusus anak-anak, apalagi masih usia 5 tahun, itu akan lebih baik untuk deteksi dini,” sambungnya.

Anak- Anak Rentan Terserang Kanker

Prof. Aru turut menyoroti tingginya kerentanan anak-anak di Indonesia terhadap kanker paru-paru akibat paparan asap rokok. “Indonesia boleh bangga nomor satu dalam jumlah perokok anak-anak, di usia 9 sampai 12 tahun. Selain itu, karena terpapar asap rokok, sehingga banyak anak-anak sekarang yang terserang kanker paru-paru,” ungkap Prof. Aru.

Berdasarkan data Yayasan Kanker Indonesia, jumlah anak yang menderita kanker di Indonesia mencapai 11.156 kasus. Dari jumlah tersebut, leukemia menjadi jenis kanker terbanyak dengan 3.880 kasus atau sekitar 34,8 persen. Disusul kanker getah bening sebanyak 640 kasus (5,7 persen) dan kanker otak 637 kasus (5,7 persen).

Adapun delapan jenis kanker yang berpotensi menyerang anak-anak meliputi:

  • Leukemia

  • Limfoma maligna

  • Retinoblastoma

  • Tumor otak

  • Tumor Wilms

  • Neuroblastoma

  • Osteosarkoma

  • Karsinoma nasofaring


Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!