JAKARTA, NOVOX.ID - Harga emas (gold) kembali menunjukkan tren penguatan
setelah sempat mengalami koreksi dari rekor tertinggi di pasar global. Sentimen
geopolitik yang tetap memanas serta prospek pelonggaran kebijakan moneter oleh
bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menjadi pendorong utama reli harga emas
yang masih berlanjut menjelang penutupan tahun 2025.
Menurut laporan pasar, logam mulia ini menguat kembali setelah melemah dari level tertinggi yang pernah dicetak. Penguatan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik serta harapan pelonggaran suku bunga yang membuat aset safe havens seperti emas kembali diminati oleh investor di seluruh dunia.
Baca juga: Subsidi Transportasi Dipangkas, Tarif Angkutan Umum Jakarta Bakal Naik di 2026
Data terbaru menunjukkan harga emas spot di akhir Desember
2025 masih menguat dibandingkan pekan-pekan sebelumnya, meskipun sempat
berfluktuasi tajam menjelang akhir tahun. Emas bahkan berada di jalur kinerja
tahunan yang kuat setelah mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025.
Beberapa analis memperkirakan kenaikan tahunan mencapai lebih dari 60 persen rekor
terbaik sejak 1979.
Penguatan harga emas sering kali diasosiasikan dengan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed di masa depan, yang dapat melemahkan dolar AS dan membuat logam mulia menjadi lebih menarik sebagai instrumen investasi alternatif. Ketika suku bunga turun, biaya oportunitas memegang emas yang tidak memberikan imbalan bunga juga menurun, sehingga permintaan emas meningkat.
Baca juga: Purbaya: Insentif Bukan Solusi, Penguatan Demand Kunci Tekan PHK
Permintaan terhadap emas juga mendapat dukungan dari
kebutuhan investor untuk melindungi nilai kekayaan di tengah dinamika ekonomi
global yang masih rentan. Ketidakpastian mengenai inflasi, kondisi geopolitik,
serta fluktuasi mata uang global mendorong banyak pihak untuk beralih ke emas
sebagai aset aman. Faktor-faktor tersebut turut menguatkan minat terhadap
bullion, investasi berbasis fisik, maupun produk turunannya seperti ETF emas.
Terkait target berikutnya, beberapa analis pasar
memproyeksikan level psikologis yang menjadi fokus investor pada tahun
2026. Misalnya, asumsi bahwa harga emas bisa mencapai dan bahkan melampaui
ambang tertentu seperti US$ 5.000 per troy ounce, jika kondisi moneter global
tetap mendukung. Level ini dianggap sebagai target psikologis baru yang
mencerminkan ekspektasi bullish lanjutan dari pelaku pasar.
Meski demikian, volatilitas harga emas tetap menjadi risiko yang harus diperhatikan, terutama jika terjadi perubahan mendadak dalam kebijakan suku bunga global atau penurunan permintaan safe haven secara tiba-tiba. Namun di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, emas tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi investor yang mencari stabilitas nilai dalam portofolio mereka.
Baca juga: Awal Pekan, Rupiah Tertekan di Tengah Pelemahan Mata Uang Asia
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!