Mengapa Korban Hipotermia Justru Buka Baju? Ini Penjelasan Medisnya

Mengapa Korban Hipotermia Justru Buka Baju? Ini Penjelasan Medisnya

Ini penjelasan mengapa korban hipotermia harus buka baju (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Kasus pendaki gunung yang ditemukan meninggal dunia setelah hampir dua pekan pencarian kembali membuka mata publik terhadap bahaya hipotermia. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai sekadar kedinginan biasa, padahal dalam dunia medis, hipotermia merupakan keadaan darurat yang dapat berujung fatal jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Dalam kondisi ini, tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuannya untuk memproduksi panas.

Akibatnya, fungsi organ-organ vital seperti jantung, otak, dan sistem saraf mulai terganggu. Jika terus berlanjut, hipotermia dapat menyebabkan gangguan irama jantung, penurunan kesadaran, hingga kematian.

Paparan cuaca dingin menjadi penyebab paling umum, terutama pada aktivitas luar ruang seperti pendakian gunung. Namun, hipotermia juga bisa terjadi pada suhu yang tidak terlalu ekstrem, terutama ketika tubuh basah karena hujan, kelelahan fisik, kekurangan asupan energi, atau berada dalam kondisi angin kencang. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pendaki gunung menjadi kelompok dengan risiko tinggi.

Secara medis, hipotermia berkembang melalui beberapa tahapan. Pada fase ringan, korban biasanya mengalami menggigil hebat, gigi gemeretak, kelelahan, bicara melambat, dan kebingungan ringan.

Memasuki tahap sedang, menggigil mulai berkurang, kesadaran menurun, bicara menjadi cadel, serta kulit tampak kebiruan. Pada tahap berat, tubuh berhenti menggigil, otot menjadi kaku, tekanan darah turun, dan korban berisiko mengalami henti jantung.

Salah satu fenomena paling membingungkan dalam kasus hipotermia adalah perilaku korban yang justru merasa kepanasan dan membuka pakaian. Fenomena ini dikenal sebagai paradoxical undressing.

Kondisi tersebut terjadi ketika penyempitan pembuluh darah yang semula bertujuan mempertahankan panas tubuh tiba-tiba gagal. Pembuluh darah melebar secara mendadak, sehingga darah hangat mengalir ke permukaan kulit dan memicu sensasi panas palsu. Sensasi inilah yang membuat korban salah menafsirkan kondisi tubuhnya, padahal tindakan membuka pakaian justru mempercepat hilangnya panas tubuh.

Dalam konteks pendakian, risiko hipotermia meningkat saat cuaca berubah cepat, hujan turun, atau pendaki mengalami kelelahan berat. Kurangnya perlindungan, pakaian yang tidak memadai, serta minimnya asupan makanan membuat tubuh kehilangan kemampuan menghasilkan panas. Jika pendaki tersesat atau terjebak di malam hari, kondisi ini bisa berkembang dengan sangat cepat.

Hipotermia membutuhkan penanganan segera. Korban harus dipindahkan ke tempat yang kering dan terlindung, pakaian basah diganti, serta tubuh dihangatkan secara bertahap. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa persiapan, kewaspadaan, dan pemahaman medis dasar merupakan kunci keselamatan dalam aktivitas pendakian.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!