JAKARTA, NOVOX.ID - Fenomena anak atau remaja
melakukan tindakan kekerasan ekstrem seperti perusakan, penyerangan, hingga
penggunaan senjata atau bom rakitan bukanlah kejadian yang muncul tiba-tiba
atau tanpa latar belakang psikologis yang kompleks. Para ahli, termasuk psikolog
anak dan remaja, mengungkapkan bahwa tindakan ekstrem tersebut biasanya
merupakan hasil dari akumulasi tekanan emosional, kebutuhan psikologis yang
tidak terpenuhi, serta pengaruh lingkungan sosial yang buruk.
Menurut psikolog anak dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, seorang anak yang akhirnya berani melakukan tindakan ekstrem tidak hadir begitu saja. Ini sering kali merupakan puncak dari frustrasi emosional yang telah terakumulasi dalam waktu lama seperti rasa kesepian, perasaan tidak dihargai, hingga pengalaman negatif dalam lingkungan rumah, sekolah, atau pergaulan. Vera menjelaskan bahwa anak yang merasa diabaikan atau tidak memiliki tempat curhat yang aman sering kali menarik diri secara sosial atau mencari tempat lain untuk mengekspresikan emosinya.Beberapa anak memilih untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka melalui tindakan ekstrem.
“Ketika anak merasa dirinya tidak berguna atau tidak diterima di lingkungan sekitar, ia mungkin mencoba mengekspresikan kekuatan atau reaksinya melalui tindakan yang mengejutkan atau destruktif,” ujar Vera dalam wawancara yang menyoroti kasus kekerasan ekstrem anak di sekolah.
Psikolog itu juga menekankan bahwa pengaruh komunitas atau kelompok sebaya dapat memperkuat kecenderungan tersebut. Jika seorang anak atau remaja menemukan kelompok yang normalisasi kekerasan atau ekstremisme, maka nilai tersebut bisa diterima sebagai sesuatu yang “wajar” atau bahkan sebagai cara yang dapat meningkatkan status sosial di kelompok tersebut. Akibatnya, mereka menjadi lebih mudah terdorong untuk melakukan tindakan berbahaya demi mendapatkan penerimaan atau pengakuan.
Tidak hanya itu, paparan terhadap konten kekerasan atau
ideologi ekstrem di internet dan media sosial juga diyakini dapat memperburuk
kecenderungan agresif. Anak yang sudah rentan secara emosional bisa merasa terinspirasi
oleh konten yang glamor atau dramatis tentang kekerasan, yang pada gilirannya
dapat menjadi landasan bagi keputusan impulsif atau tindakan ekstrem.
Lebih jauh, ketidakhadiran dukungan emosional dari keluarga
atau lingkungan terdekat sering kali menjadi faktor utama. Ketika anak merasa
tidak aman atau tidak mampu memenuhi kebutuhan emosinya, mereka cenderung
mencari jalan keluar melalui reaksi destruktif sebagai bentuk pelampiasan atau
komitmen terhadap kelompok tertentu yang dianggap memberikan “tempat” atau
identitas.
Psikolog sering menyarankan agar orang tua dan pendidik lebih jeli dalam membaca tanda-tanda perubahan perilaku anak sejak dini seperti isolasi sosial, intensi dendam, atau perubahan pola emosional drastis dan segera mencari dukungan profesional untuk mencegah eskalasi perilaku agresif menjadi tindakan ekstrem.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!