JAKARTA, NOVOX.ID - Fenomena anak muda yang semakin gemar mencurahkan isi hati melalui platform artificial intelligence (AI) belakangan menjadi perhatian. Berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan kini tak lagi sekadar alat bantu, melainkan dianggap sebagai ruang aman bagi generasi muda untuk berbagi keluh kesah.
Psikolog Klinis Kasandra Putranto menilai tren curhat ke AI merupakan fenomena yang perlu dicermati secara serius. Menurutnya, kemunculan tren ini tidak semata-mata dipicu oleh kemajuan teknologi, tetapi juga dipengaruhi faktor psikologis dan sosial yang lebih mendasar.
Kasandra menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong anak muda memilih curhat ke AI adalah stigma yang masih melekat pada isu kesehatan mental. Hingga kini, masih banyak individu yang merasa canggung, takut, atau enggan mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah psikologis.
Ia mengutip studi Hoffman et al. (2024) yang menemukan bahwa semakin tinggi stigma diri terhadap upaya mencari pertolongan kesehatan mental, semakin positif pula pandangan seseorang terhadap penggunaan AI untuk kebutuhan psikoterapi. Stigma diri tersebut mencakup anggapan bahwa meminta bantuan psikolog dapat menurunkan harga diri, merusak kepercayaan diri, atau memengaruhi nilai diri seseorang.
Dalam konteks tersebut, anonimitas yang ditawarkan teknologi AI menjadi daya tarik tersendiri bagi anak muda. AI memungkinkan pengguna berbagi cerita tanpa harus mempertaruhkan identitas pribadi, sehingga mereka merasa lebih aman dari penilaian atau pelabelan sosial.
“Banyak anak muda merasa lebih nyaman mengungkapkan topik sensitif atau memalukan kepada AI, yang mungkin mereka hindari saat berbicara dengan profesional karena takut dihakimi atau dianggap remeh,” ujar Kasandra.
Selain itu, perkembangan teknologi AI juga membuat interaksi terasa semakin personal. Sistem AI mampu memberikan respons yang membantu pengguna memahami diri, memberi dukungan emosional sederhana, serta menciptakan kesan bahwa mereka didengarkan dan dipahami. Kondisi ini membuat generasi muda yang lelah dengan tekanan sosial dan budaya perbandingan di media sosial menemukan kenyamanan baru dalam berinteraksi dengan AI.
Meski demikian, Kasandra mengingatkan adanya sejumlah risiko dalam kebiasaan curhat ke AI. Menurutnya, AI memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kondisi kesehatan mental secara akurat, sehingga berpotensi memberikan saran yang kurang tepat.
Ia juga menegaskan bahwa AI tidak mampu menangani situasi krisis, seperti risiko bunuh diri, kekerasan, atau kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera. Hal tersebut berbeda dengan peran profesional kesehatan mental yang terlatih.
“AI juga tidak memiliki empati seperti manusia dan tidak dapat menilai bahasa tubuh atau nada suara, padahal aspek tersebut sangat penting dalam proses terapi yang efektif,” pungkasnya.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!