JAKARTA, NOVOX.ID - Rambut rontok masih menjadi masalah kesehatan rambut yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia dan tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga memengaruhi kepercayaan diri.
Berdasarkan survei Data Good Stats, rambut rontok tercatat sebagai keluhan rambut paling dominan dengan persentase mencapai 64,7 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden pernah atau sedang mengalami kerontokan rambut.
Dari total 1.969 responden yang mengaku mengalami rambut rontok, kelompok usia 20–25 tahun menjadi yang paling banyak terdampak dengan persentase sekitar 37,7 persen. Disusul kelompok usia 30–35 tahun sebesar 16,8 persen, usia 26–29 tahun sebesar 15,2 persen, dan usia 16–19 tahun sekitar 9,9 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa rambut rontok tidak hanya dialami oleh kelompok usia lanjut, tetapi juga banyak terjadi pada usia produktif. Artinya, faktor usia bukan satu-satunya penyebab utama kerontokan rambut.
Secara umum, rambut rontok dapat dipicu oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah penggunaan produk kosmetik tertentu seperti cat rambut, kebiasaan yang merusak rambut seperti terlalu sering keramas, penggunaan alat pemanas, atau mengikat rambut terlalu kencang.
Selain itu, faktor genetik, perubahan hormon setelah melahirkan atau saat menopause, penurunan berat badan secara drastis, serta stres berkepanjangan juga dapat memicu kerontokan rambut. Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kemoterapi, obat pengencer darah, pil KB, hingga obat tekanan darah, turut berkontribusi pada masalah ini.
Kondisi medis tertentu juga berperan, seperti infeksi kulit kepala, anemia, diabetes, lupus, sifilis, gangguan tiroid, hingga gangguan psikologis seperti trikotilomania yang ditandai dengan kebiasaan mencabuti rambut.
Rambut rontok dapat bersifat sementara maupun permanen, tergantung pada penyebabnya. Beberapa jenis kerontokan rambut yang umum dikenal antara lain androgenic alopecia atau kebotakan turunan, alopecia areata akibat gangguan autoimun, telogen effluvium yang dipicu stres fisik atau emosional, serta anagen effluvium yang sering terjadi akibat pengobatan medis seperti kemoterapi.
Penanganan rambut rontok bergantung pada faktor pemicunya. Jika disebabkan oleh gangguan hormon, efek obat, penyakit tertentu, atau pola makan, dokter akan fokus menangani penyebab utama terlebih dahulu.
Dalam banyak kasus, mengatasi faktor pemicu sudah cukup untuk menghentikan kerontokan rambut. Namun, pada kondisi tertentu, diperlukan perawatan khusus untuk merangsang pertumbuhan rambut kembali.
Beberapa metode penanganan rambut rontok yang umum digunakan, khususnya untuk androgenic alopecia, meliputi penggunaan obat oles seperti minoxidil, obat minum finasteride untuk pria, prosedur transplantasi rambut, hingga terapi platelet-rich plasma (PRP) yang bertujuan memperlambat kerontokan dan merangsang pertumbuhan rambut baru.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!