Sadar Saat Bermimpi, Fakta di Balik Fenomena Lucid Dream

Sadar Saat Bermimpi, Fakta di Balik Fenomena Lucid Dream

Fakta unik di balik Lucid Dream (Foto: X/@ItsAlexZah)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Lucid dream atau mimpi sadar kembali mencuri perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial dan budaya populer. Fenomena ketika seseorang menyadari dirinya sedang bermimpi ini kerap dikaitkan dengan kemampuan mengendalikan alur mimpi, bahkan disebut-sebut menyerupai astral projection seperti yang digambarkan dalam film horor Insidious.

Namun, di balik sensasi dan mitos yang menyertainya, para ahli menegaskan lucid dream merupakan fenomena psikologis yang memiliki penjelasan ilmiah dan tidak berhubungan dengan “keluar dari tubuh”.

Spesialis gangguan tidur dari Cleveland Clinic, Alicia Roth, PhD, menjelaskan lucid dream terjadi saat seseorang sadar bahwa ia sedang berada di dalam mimpi. “Jenis mimpi ini paling umum terjadi selama tidur REM (rapid eye movement), yaitu fase tidur ketika aktivitas otak meningkat dan mimpi terasa paling nyata,” ujar Roth, Sabtu 10 Januari 2026.

Dalam kondisi tersebut, sebagian orang bahkan mampu mengarahkan jalannya mimpi, menciptakan pengalaman yang terasa sangat hidup dan kreatif.

Fenomena lucid dream sebenarnya tidak langka. Sekitar 50 persen populasi dunia pernah mengalaminya setidaknya sekali dalam hidup. Namun, hanya sebagian kecil yang mampu mengendalikan mimpi secara konsisten. Menurut Roth, mimpi baik biasa maupun lucid masih sangat sulit diukur secara objektif.

“Aktivitas otak saat tidur REM sangat mirip dengan saat terjaga. Tetapi kami tetap tidak bisa mengetahui secara pasti kapan seseorang benar-benar sedang bermimpi,” katanya.

Lucid dream sering disalahartikan sebagai astral projection, yakni keyakinan bahwa jiwa dapat terpisah dari tubuh fisik. Dalam dunia medis dan sains, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

Peneliti menilai lucid dream terjadi karena peningkatan konektivitas antararea otak yang biasanya tidak aktif saat tidur, terutama area yang berperan dalam pengambilan keputusan dan persepsi sensorik.

Beberapa kondisi diketahui meningkatkan kemungkinan lucid dream, seperti gangguan tidur yang memengaruhi fase REM. Penderita narkolepsi, misalnya, dilaporkan lebih sering mengalami mimpi sadar.

Selain itu, penelitian menunjukkan orang yang terbuka terhadap pengalaman baru, memiliki daya ingat mimpi yang baik, emosional stabil, dan kreatif cenderung lebih sering mengalami lucid dream.

Meski terdengar menarik, para ahli mengingatkan lucid dream bukan tanpa risiko jika dilakukan secara sengaja dengan mengorbankan kualitas tidur. Upaya memicu mimpi sadar dapat menyebabkan kurang tidur, yang berdampak pada gangguan konsentrasi, stres, tekanan darah tinggi, hingga diabetes.

“Mengganggu siklus tidur demi mengejar lucid dream bukanlah hal yang disarankan,” tegas Roth.

Bagi individu dengan gangguan kesehatan mental tertentu, seperti psikosis atau halusinasi, lucid dream juga bisa menyulitkan mereka membedakan antara mimpi dan realitas. Karena itu, fenomena ini perlu dipahami secara proporsional, bukan dimitoskan berlebihan.

Di sisi lain, lucid dream juga memiliki manfaat terapeutik. Dalam praktik klinis, teknik seperti imagery rehearsal therapy digunakan untuk membantu pasien yang sering mengalami mimpi buruk.

“Kami mengajarkan penggunaan imajinasi terpandu untuk menulis ulang narasi mimpi buruk menjadi lebih positif,” jelas Roth.

Teknik ini terbukti dapat mengurangi kecemasan, depresi, serta frekuensi mimpi buruk, sekaligus meningkatkan keterampilan motorik dan kinerja tertentu.

Dengan demikian, lucid dream bukanlah perjalanan astral seperti dalam film, melainkan fenomena alami otak manusia. Dipahami dengan benar, mimpi sadar dapat menjadi jendela menarik untuk memahami kesadaran, selama tetap menjaga kesehatan tidur dan keseimbangan mental.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!