JAKARTA, NOVOX.ID - Sunat atau sirkumsisi merupakan prosedur medis pengangkatan kulit kulup pada ujung penis yang telah lama dikenal dan dipraktikkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika selama ini sunat identik dilakukan pada anak usia sekolah dasar, praktik sunat pada bayi laki-laki kini semakin banyak dipilih orang tua. Keputusan tersebut umumnya didasari pertimbangan medis, agama, hingga kenyamanan anak di masa depan.
Menurut informasi medis dari Cleveland Clinic, sunat pada bayi dapat dilakukan sejak dini, bahkan dianjurkan dalam 10 hari pertama setelah bayi lahir, selama kondisi bayi dalam keadaan sehat. Pada fase ini, proses penyembuhan dinilai lebih cepat dan risiko nyeri relatif lebih rendah jika dilakukan dengan anestesi lokal. Hal ini membuat sebagian orang tua menilai sunat bayi sebagai pilihan yang lebih praktis dibandingkan menunggu anak lebih besar.
Secara medis, sunat diketahui memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Setelah kulit kulup diangkat, penis menjadi lebih mudah dibersihkan sehingga kebersihan organ reproduksi lebih terjaga. Kondisi ini berperan penting dalam menurunkan risiko peradangan, terutama pada anak-anak yang belum mampu menjaga kebersihan secara mandiri.
Selain itu, sunat juga dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti fimosis atau kondisi ketika kulup tidak bisa ditarik ke belakang, parafimosis, hingga peradangan pada kepala penis. Risiko infeksi saluran kemih juga disebut lebih rendah pada anak laki-laki yang disunat. Dalam jangka panjang, sunat turut dikaitkan dengan penurunan risiko kanker penis dan beberapa infeksi menular seksual.
“Sunat termasuk prosedur medis yang sangat umum dan tingkat keberhasilannya tinggi. Komplikasi yang terjadi umumnya ringan dan jumlahnya sangat kecil,” demikian keterangan dari sumber medis yang dikutip dari Cleveland Clinic.
Meski demikian, sunat bukan tanpa risiko. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi antara lain reaksi terhadap anestesi, perdarahan ringan, infeksi pada area luka, hingga nyeri pasca tindakan. Dalam kasus yang jarang, kulup bisa terpotong terlalu sedikit atau terlalu banyak, serta terjadi iritasi atau penyempitan lubang kencing. Namun, sebagian besar risiko tersebut dapat diminimalkan apabila prosedur dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dengan standar kesehatan yang baik.
Di tengah masyarakat, masih beredar anggapan bahwa sunat dapat menurunkan sensitivitas atau kenikmatan seksual di masa dewasa. Namun hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Sunat juga tidak memengaruhi kesuburan maupun kemampuan biologis seseorang untuk memiliki keturunan.
Pada akhirnya, keputusan untuk menyunat bayi laki-laki merupakan pilihan pribadi setiap keluarga. Orang tua disarankan mempertimbangkan faktor kesehatan, nilai agama, budaya, serta kondisi anak. Jika masih ragu, berkonsultasi dengan dokter menjadi langkah bijak agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan keselamatan anak.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!