JAKARTA, NOVOX.ID - Telur selama ini dikenal sebagai sumber protein yang praktis, terjangkau, dan kaya nutrisi. Tak heran jika bahan pangan ini kerap menjadi menu andalan sarapan hingga lauk harian masyarakat. Namun di balik manfaatnya, konsumsi telur tetap perlu diperhatikan, terutama terkait kandungan lemak jenuh dan dampaknya terhadap kesehatan jantung.
Ahli diet kardiologi preventif dari Cleveland Clinic, Julia Zumpano, menyebut telur tetap bisa dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat, selama porsinya tidak berlebihan. Menurutnya, kekhawatiran terhadap kolesterol dalam telur kini mulai bergeser, seiring temuan ilmiah terbaru.
“Kolesterol pada makanan ternyata tidak memengaruhi kolesterol darah sebanyak yang diperkirakan sebelumnya,” kata Zumpano.
Ia menjelaskan, faktor yang lebih berperan dalam peningkatan kolesterol jahat atau LDL justru berasal dari total lemak jenuh yang dikonsumsi setiap hari. Telur memang mengandung lemak jenuh, terutama pada bagian kuningnya. Dalam satu butir telur, terdapat sekitar 1,6 gram lemak jenuh.
“Penelitian menunjukkan bahwa total lemak jenuh yang kita makan lebih berkontribusi pada LDL daripada kolesterol makanan,” ujar Zumpano.
Karena itu, jumlah konsumsi telur perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing orang. American Heart Association merekomendasikan orang dewasa tanpa riwayat penyakit jantung untuk mengonsumsi satu telur utuh per hari, atau dua putih telur sebagai alternatif.
Sementara bagi mereka yang memiliki penyakit jantung, kolesterol tinggi, atau diabetes, konsumsi kuning telur sebaiknya dibatasi. Dalam sepekan, jumlah kuning telur yang disarankan tidak lebih dari empat butir.
Namun Zumpano mengingatkan, batas tersebut tidak berdiri sendiri. Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor penentu utama kesehatan jantung.
“Saran untuk membatasi hingga empat kuning telur seminggu selalu disertai peringatan bahwa Anda juga perlu memperhitungkan semua sumber lemak jenuh lain dalam diet Anda,” jelasnya.
Selain jumlah, cara mengolah telur juga berpengaruh besar. Metode memasak seperti merebus, poaching, atau menumis ringan dinilai lebih sehat. Sebaliknya, menggoreng telur dengan banyak minyak atau mentega justru menambah asupan lemak jenuh.
“Menggoreng memang praktis, tapi Anda seperti menambahkan lemak jenuh baru ke dalam telur,” pungkas Zumpano.
Dengan porsi yang tepat dan cara memasak yang sehat, telur tetap bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang tanpa mengorbankan kesehatan jantung.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!