6 Destinasi Wisata Ramah Kucing di Dunia yang Wajib Dikunjungi Cat Lovers

6 Destinasi Wisata Ramah Kucing di Dunia yang Wajib Dikunjungi Cat Lovers

Ilustrasi tempat wisata kucing (foto: Pinterest/Coffee cat

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Di tengah berkembangnya tren pariwisata berbasis pengalaman, daya tarik sebuah destinasi kini tidak lagi bertumpu pada panorama alam atau situs bersejarah semata. Di sejumlah tempat, pengalaman berkesan justru hadir dari hal sederhana, seperti interaksi dengan kucing yang hidup berdampingan dengan manusia di ruang-ruang publik.

Bagi wisatawan, khususnya pencinta kucing, destinasi semacam ini menawarkan sensasi berbeda. Pengunjung dapat berjalan-jalan sambil menjumpai kucing yang bebas berkeliaran, terawat, dan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Interaksi yang terjadi secara alami ini perlahan membentuk identitas khas suatu daerah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari berbagai negara. Kucing tak lagi sekadar hewan jalanan, melainkan simbol yang memperkuat citra dan karakter pariwisata sebuah destinasi.

Berikut sejumlah destinasi wisata dunia yang dikenal ramah terhadap kucing dan menjadi magnet bagi para pencinta hewan tersebut.

1. Houtong, Taiwan
Houtong di Taiwan bagian utara dikenal sebagai cat village karena populasi kucing liarnya yang melimpah. Desa ini dulunya merupakan kawasan tambang batu bara yang mulai ditinggalkan setelah industri tersebut meredup.

Pada akhir 1990-an, jumlah penduduk Houtong menyusut hingga kurang dari 100 orang. Kehadiran kucing liar membuat desa ini tetap hidup dan tidak sepenuhnya ditinggalkan.

Titik balik terjadi pada 2008 ketika warga mulai merawat kucing dan membagikan aktivitas mereka melalui foto serta video. Konten tersebut menarik perhatian publik dan perlahan mendorong pertumbuhan wisata bertema kucing.

Kini, kucing-kucing dapat ditemui bersantai di pot tanaman, rak toko, tangga, hingga atap bangunan. Area desa juga dipenuhi kios suvenir bernuansa kucing.

Pada 2013, sebuah jembatan pejalan kaki direnovasi dengan desain ramah kucing dan kemudian dikenal sebagai Cat Bridge. Houtong meraih rating 4,3 bintang di Google dari lebih dari 12.000 ulasan, dengan banyak pengunjung menyebutnya sebagai surga bagi pencinta kucing.

2. Istanbul, Turki
Istanbul dikenal sebagai salah satu kota dengan populasi kucing terbanyak di dunia. Kucing hidup bebas dan mudah ditemui di jalanan, kafe, museum, hingga area masjid.

Masyarakat setempat terbiasa memberi makan dan merawat kucing liar. Saat musim dingin, kucing bahkan dibiarkan masuk ke dalam bangunan untuk berlindung.

Pemerintah kota menyediakan ambulans hewan gratis untuk kondisi darurat serta layanan perawatan dan sterilisasi. Rumah-rumah kucing juga tersebar di berbagai sudut kota sebagai bagian dari pengelolaan ruang publik.

Keberadaan kucing di Istanbul erat kaitannya dengan sejarah kota sebagai pelabuhan, tempat kucing dulu dibawa untuk mengusir tikus di kapal. Budaya Islam yang memandang kucing sebagai hewan bersih turut membentuk sikap ramah masyarakat terhadap hewan ini.

3. Kotor, Montenegro
Kotor merupakan kota resor dengan latar bangunan abad pertengahan yang telah berstatus Warisan Dunia UNESCO. Di kota tua ini, kucing berkeliaran bebas di jalan sempit, kafe, dan tangga batu.

Sejak 1914, Lonely Planet telah menyebut Kotor sebagai destinasi ideal bagi pencinta kucing. Meski namanya bukan berasal dari kata kucing—yang dalam bahasa setempat disebut macka—kehadiran kucing telah menjadi ciri khas kota ini.

Warga dan pelaku usaha lokal dikenal peduli terhadap kesejahteraan kucing. Pada 2010, mereka bersatu melindungi kucing setelah terjadi kasus peracunan, yang kemudian mendorong pemerintah menetapkan area khusus pemberian makan.

Di kota tua Kotor juga terdapat Museum Kucing yang berdiri di bekas biara Virgin of Angels. Museum ini menyimpan lebih dari 1.500 koleksi bertema kucing, dengan seluruh pendapatan tiket digunakan untuk membantu perawatan kucing di kota tersebut.

4. Tbilisi, Georgia
Kucing jalanan mudah dijumpai di hampir seluruh penjuru Kota Tbilisi. Banyak di antaranya berkeliaran di kafe terbuka maupun area tempat ibadah.

Sebagian kucing aktif mendekati pengunjung, sementara lainnya memilih menjaga jarak. Meski populasinya cukup besar, pengelolaan kucing di Tbilisi masih terbatas.

Langkah yang dilakukan saat ini umumnya berupa sterilisasi, tanpa dukungan sistem atau infrastruktur terpadu. Akibatnya, kucing tetap hidup bebas di ruang publik kota.

5. Pulau Tashiro, Jepang
Pulau Tashiro dikenal sebagai “pulau kucing” karena jumlah kucingnya jauh melebihi populasi manusia. Pulau ini hanya dihuni sekitar 70 orang yang tersebar di dua desa, Odomari dan Nitoda.

Kucing awalnya didatangkan untuk mengendalikan tikus yang mengganggu industri sutra. Sejak saat itu, anjing dilarang masuk ke pulau.

Warga memperlakukan kucing dengan penuh penghormatan. Di tengah pulau terdapat kuil yang didedikasikan bagi dewa kucing sebagai simbol keberuntungan.

Sebelum pandemi, Tashiro menjadi destinasi wisata populer. Wisatawan asing, termasuk dari Amerika Serikat, dapat berkunjung ke Jepang hingga 90 hari tanpa visa dengan paspor yang masih berlaku.

6. Zelenogradsk, Rusia
Zelenogradsk di wilayah Kaliningrad dikenal sebagai kota kucing sejak 2012, seiring dibukanya Museum Murarium di menara air yang telah direnovasi.

Museum ini menyimpan lebih dari 4.500 koleksi bertema kucing, mulai dari perhiasan, lukisan, patung, hingga dekorasi interior.

Popularitas museum tersebut mendorong pemerintah kota mengembangkan citra Zelenogradsk sebagai destinasi wisata bertema kucing. Kini, kucing dapat ditemui hampir di setiap sudut kota, baik sebagai hewan hidup maupun dalam bentuk mural, patung, dan suvenir.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!