JAKARTA, NOVOX.ID – Banyak orang kerap mengaitkan GERD (penyakit
asam lambung naik) dengan masalah jantung bahkan ada anggapan bahwa GERD bisa
memicu serangan atau henti jantung secara langsung.
Namun, para ahli medis menegaskan bahwa GERD dan henti
jantung adalah dua kondisi yang berbeda secara fisiologis dan tidak memiliki
hubungan sebab-akibat langsung. Sebab itulah penting memahami perbedaan gejala
yang mirip agar tidak salah interpretasi ketika menghadapi keluhan dada.
GERD adalah kondisi ketika asam lambung sering naik ke
kerongkongan, menyebabkan gejala seperti heartburn (sensasi terbakar di dada),
nyeri ulu hati, dan regurgitasi. Meskipun rasa tidak nyaman ini sering
dirasakan di area dada, ia bersifat masalah saluran pencernaan dan bukan
gangguan jantung.
Gejala ini bisa menyerupai nyeri dada yang terkait dengan jantung, tapi mekanisme penyebabnya berbeda.
Sebaliknya, henti jantung (cardiac arrest) adalah kondisi
darurat medis yang terjadi ketika jantung secara tiba-tiba berhenti memompa
darah secara efektif.
Henti jantung disebabkan oleh gagalnya ritme listrik jantung
yang membuat jantung tidak lagi memompa darah ke otak dan organ vital lainnya,
sehingga berpotensi fatal dalam hitungan menit tanpa penanganan cepat.
Perbedaan utama antara kondisi ini juga terlihat dari
gejalanya. Pada GERD, nyeri dada biasanya bersifat sensasi terbakar atau perih,
sering timbul setelah makan, dan mungkin bertambah buruk saat berbaring atau
membungkuk. Gerakan tubuh dan makanan tertentu juga dapat memperburuk gejala
ini.
Di lain pihak, gangguan jantung seperti serangan jantung atau henti jantung biasanya ditandai oleh tekanan dada berat, nyeri yang menjalar ke lengan atau rahang, sesak napas, pusing, dan kehilangan kesadaran.
Meski begitu, kesamaan gejala ini sering memicu kekeliruan
dalam persepsi publik. Publikasi medis dan komentar dokter di media sosial
bahkan ramai dibahas karena banyak yang percaya GERD bisa langsung memicu henti
jantung padahal dokter menegaskan bahwa GERD tidak menyebabkan penyakit jantung
apalagi henti jantung secara langsung.
Nyeri dada akibat GERD bisa memicu kekhawatiran dan stres
yang dirasakan mirip dengan masalah jantung, tetapi secara ilmiah tidak
sama dengan penyebab henti jantung.
Ahli jantung juga mengingatkan bahwa bila keluhan nyeri dada
tidak hilang atau justru semakin parah, terutama disertai gejala seperti sesak
napas atau pusing hebat, sebaiknya segera mencari penanganan medis karena ini
bisa menjadi tanda kondisi jantung yang serius, bukan sekadar gangguan
pencernaan.
Intinya, GERD dan henti jantung bisa serupa dalam sensasi awalnya, namun tidak berkaitan secara langsung dari sisi penyebab medisnya. Edukasi publik tentang perbedaan ini penting untuk mencegah kesalahan diagnosis diri dan memastikan setiap kasus ditangani sesuai kondisi yang sebenarnya.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!