Aurelie Ungkap Pengalaman Child Grooming, Trauma Membekas hingga Dewasa

Aurelie Ungkap Pengalaman Child Grooming, Trauma Membekas hingga Dewasa

Buku "Broken Strings" karya Aurelie Moeremans (foto: Instagram/@aurelie)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - E-book Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi perbincangan publik setelah mengungkap pengalaman pribadinya sebagai korban child grooming saat remaja. Melalui kisah tersebut, Aurelie turut membuka mata masyarakat terhadap isu kekerasan yang kerap tersembunyi dan jarang dibicarakan secara terbuka.

Perempuan kelahiran Belgia itu membagikan tautan e-book secara gratis melalui akun media sosialnya, @aurelie, agar publik dapat memahami realitas yang ia alami sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perlindungan anak.

“Dulu, suara korban sering tenggelam atau justru disalahkan. Sekarang, empati dan pemahaman tentang relasi kuasa semakin berkembang,” tulis Aurelie Moeremans dalam unggahan Instagram pribadinya, Senin 12 Januari 2026.

Aurelie mengaku bersyukur melihat perubahan sikap masyarakat Indonesia terhadap isu child grooming. Saat pertama kali berani bersuara di usia muda, respons yang ia terima cenderung minim empati dan kerap menyudutkan korban.

Kini, menurut Aurelie, terjadi pergeseran signifikan. Lebih banyak orang memahami konsep grooming dan relasi kuasa, penghakiman berkurang, serta korban merasa lebih aman untuk berbagi pengalaman tanpa rasa takut.

Pengalaman child grooming yang dialami Aurelie bermula saat ia berusia 15 tahun. Seorang pria dewasa secara perlahan membujuk, memanipulasi, dan mengendalikan dirinya dengan tujuan eksploitasi.

Kasus seperti ini, kata Aurelie, bisa terjadi di lingkungan yang tampak aman atau profesional. Pelaku sering menyamarkan niat buruk di balik sikap ramah dan perhatian, sehingga korban maupun orang di sekitarnya sulit mengenali tanda bahaya.

Dampak child grooming tidak berhenti ketika kekerasan berakhir. Trauma yang ditinggalkan dapat bertahan hingga dewasa dan memengaruhi cara korban memandang diri sendiri serta membangun relasi dengan orang lain.

Berikut sejumlah dampak yang kerap dialami korban child grooming:

  • Traumatic Sexualization
    Korban sering mengalami gangguan terkait seksualitas dan keintiman, disertai kesulitan membangun kepercayaan akibat pengalaman masa kecil.

  • Perasaan Tidak Berdaya
    Banyak korban mengalami PTSD, kecemasan berlebih, serangan panik, fobia, hingga mimpi buruk berulang karena merasa dunia di sekitarnya tidak aman.

  • Stigmatisasi Diri
    Korban kerap memandang dirinya “rusak” atau tidak layak dicintai, dipicu rasa bersalah dan malu yang terbawa hingga dewasa.

  • Distorsi Kognitif
    Pengalaman grooming dapat mengaburkan kemampuan korban membedakan individu yang aman dan berbahaya, sehingga menyulitkan mereka membangun hubungan sehat.

  • Rasa Malu dan Menyalahkan Diri Sendiri
    Banyak korban tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka bertanggung jawab atas pelecehan yang dialami, pola pikir yang kerap terbawa hingga dewasa.

Penanganan trauma akibat child grooming memerlukan pendekatan terapi khusus. Sejumlah metode yang terbukti efektif antara lain EMDR, Exposure Therapy, dan Trauma-Focused Cognitive Behavior Therapy (TF-CBT). Terapi ekspresif seperti seni, musik, dan tari juga dapat membantu korban menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Tujuan utama terapi adalah membantu korban memahami batasan diri, membangun relasi yang sehat, serta berani menghadapi percakapan sulit tanpa rasa takut. Proses ini juga mendorong korban mengubah pengalaman traumatis menjadi sumber kekuatan dan pertumbuhan pribadi.

Trauma child grooming tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga keluarga. Ketika kasus terungkap, anggota keluarga sering mengalami tekanan emosional, rasa bersalah, hingga kebingungan atas kepercayaan yang sebelumnya terjalin.

Oleh karena itu, sebelum terapi dilakukan, tenaga profesional perlu memahami pengalaman korban secara menyeluruh, termasuk dampaknya terhadap keluarga. Alat asesmen seperti Sex Offender Grooming Assessment (SOGA) dan Sexual Grooming Scale – Victim Version dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola grooming secara lebih akurat.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!