Dari Gym hingga Lari Malam, Cara Pekerja Kantoran Menjaga Kewarasan

Dari Gym hingga Lari Malam, Cara Pekerja Kantoran Menjaga Kewarasan

Cara pekerja kantoran menjaga kewarasan mental (Foto: X/@oyasumeenasaii)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Fenomena “life after office” kian menjadi pilihan banyak pekerja kantoran sebagai cara melepas penat setelah seharian bekerja.

Alih-alih langsung pulang dan rebahan, tak sedikit yang memilih berlari malam sambil menyalakan aplikasi Strava, bermain futsal bareng rekan kerja, atau menyempatkan diri ke gym.

Aktivitas ini bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi juga bagian dari kesadaran baru akan pentingnya kesehatan fisik dan mental di tengah tekanan dunia kerja.

Baca juga: Pep Guardiola Himbau Anak Asuhnya Untuk Nikmati Jeda Libur Natal

Bagi sebagian pekerja, olahraga menjadi ruang aman untuk menyalurkan stres yang menumpuk akibat target, tenggat waktu, dan tuntutan profesional.

Ungkapan “kalau resign takut miskin, kalau ditahan terus takut gila” terasa relevan bagi banyak karyawan, dan olahraga sering kali menjadi jalan tengah agar tetap waras.

Sejumlah penelitian pun menguatkan hal tersebut. Studi yang dipublikasikan Stanford University pada 2016 menunjukkan bahwa olahraga aerobik mampu meningkatkan kemampuan regulasi emosi, perhatian, serta kontrol diri yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

Secara biologis, olahraga memicu pelepasan endorfin yang berfungsi mengurangi rasa sakit dan stres, sekaligus menghadirkan perasaan bahagia.

Baca juga: Kalender Resmi F1 2026: GP Australia Jadi Pembuka, Madrid Jadi Seri Kedua Spanyol

Selain itu, tubuh juga menghasilkan serotonin dan dopamin yang berperan dalam meningkatkan suasana hati dan motivasi.

Efek ini membuat banyak orang merasa lebih segar dan positif setelah berolahraga, meski hanya dilakukan singkat usai jam kantor.

Spesialis olahraga dari EMC Healthcare, dr Anita Suryani, SpKO, menyebut olahraga tidak harus lama atau setiap hari untuk memberikan manfaat.

“Gym itu cuma perlu tiga hari sekali alias dua kali seminggu. Lima belas menit saja cukup,” ujar dr Anita.

Baca juga: Marc Marquez Anggap Alex sebagai Ancaman Serius di MotoGP 2026

Ia juga menyarankan peregangan ringan di sela jam kerja. “Fleksibilitas bisa tarik-tarik di kantor minimal 10 detik tiap dua jam. Bisa, jadi alasan apa buat budak korporat?” katanya.

Terkait kekhawatiran olahraga malam hari memicu serangan jantung, dr Anita menegaskan risikonya tidak bergantung pada waktu, melainkan kondisi tubuh.

“Kalau dia kurang tidur, sudah capek di kantor, ditambah olahraga, ya risikonya ada. Nggak usah malam, siang sore juga sama,” tegasnya.

Hal senada disampaikan spesialis jantung dr Hasjim H, SpJP. “Sebenarnya olahraga berat tidak memiliki kaitan langsung dengan serangan jantung. Biasanya ada gangguan jantung yang sebelumnya tidak diketahui,” ujarnya.

Baca juga: Sejarah Boxing Day Liga Inggris: Dari Laga Natal hingga Rekor 66 Gol

Meski begitu, olahraga tetap membutuhkan “modal” berupa istirahat cukup, asupan nutrisi seimbang, dan pemulihan yang baik. Dr Anita mengingatkan pentingnya mengenal batas tubuh.

“Kalau nggak overtraining, badan terasa lebih segar dan bawaannya happy menghadapi aktivitas sehari-hari,” katanya. Medical check up juga dianjurkan agar olahraga yang dilakukan aman dan sesuai kondisi masing-masing.

Di tengah ritme kerja yang padat, olahraga setelah jam kantor kini bukan sekadar gaya hidup, melainkan strategi bertahan agar tubuh dan mental tetap sehat di era kerja modern.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!