JAKARTA, NOVOX.ID - Selat Padar, jalur pelayaran wisata yang memisahkan Pulau Padar dan Pulau Rinca di kawasan Taman Nasional Komodo, selama ini dikenal sebagai salah satu perairan terindah di Indonesia. Keindahan panorama laut biru, gugusan pulau kecil, hingga bukit ikonik Pulau Padar menjadikan kawasan ini magnet wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, keindahan tersebut kini dibayangi duka setelah terjadinya tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah.
Pulau Padar sebagai pulau terbesar ketiga di Taman Nasional Komodo memiliki daya tarik yang mendunia. Dari puncak bukitnya, wisatawan dapat menyaksikan pemandangan spektakuler Selat Padar yang membelah pulau-pulau kecil di sekitarnya. Selain itu, pantai berpasir merah muda atau pink beach menjadi salah satu destinasi favorit yang kerap menghiasi promosi pariwisata Indonesia Timur.
Namun suasana indah tersebut berubah muram pada 26 Desember 2025. Kapal wisata jenis pinisi KM Putri Sakinah yang tengah melayani rute wisata Komodo dilaporkan mengalami mati mesin sebelum akhirnya tenggelam di perairan Selat Padar. Insiden tersebut menelan korban jiwa, termasuk empat warga negara asing asal Spanyol yang sedang berlibur menikmati keindahan kawasan Taman Nasional Komodo.
Tragedi ini tidak hanya mengguncang dunia pariwisata, tetapi juga memunculkan kekhawatiran di kalangan warga lokal yang selama ini menggantungkan hidup pada laut. Kondisi cuaca yang semakin tidak menentu menjadi ancaman nyata bagi aktivitas sehari-hari masyarakat pesisir.
Kasmirwan, warga Kampung Rinca, Desa Pasir Panjang, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem belakangan kerap terjadi di sekitar Selat Padar dan perairan Rinca. “Belakangan ini cuaca ekstrem sering terjadi di sekitar Selat Padar dan perairan Rinca. Gelombang bisa tiba-tiba tinggi hingga lebih dari 2 meter, bahkan saat prakiraan cuaca bilang aman,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak warga yang bekerja sebagai sopir boat ojek maupun nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut saat kondisi tidak memungkinkan. “Banyak dari kita yang sedang bekerja sebagai sopir boat ojek atau nelayan kesulitan keluar laut. Kalau tidak bisa berlayar, kita tidak punya penghasilan sama sekali,” katanya.
Kondisi tersebut juga berdampak pada akses warga menuju Labuan Bajo, baik untuk memenuhi kebutuhan pokok maupun mendapatkan layanan kesehatan. Menurut Kasmirwan, gelombang tinggi kerap memutus jalur transportasi laut yang menjadi satu-satunya akses utama warga.
Ia berharap tragedi kapal tenggelam ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang. “Kita harap pihak berwenang tidak hanya memperhatikan keselamatan kapal wisata besar, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan kami warga lokal yang bergantung penuh pada laut ini,” ujarnya.
Keindahan Selat Padar tetap menjadi kebanggaan Indonesia, namun peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran dan perlindungan warga lokal harus menjadi prioritas seiring berkembangnya pariwisata di kawasan Taman Nasional Komodo.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!