JAKARTA, NOVOX.ID - Lemak visceral atau lemak perut dalam diketahui berkaitan erat dengan berbagai penyakit metabolik serius, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
Berbeda dengan lemak di bawah kulit, lemak visceral tersimpan di sekitar organ vital seperti hati, pankreas, dan usus, sehingga dampaknya terhadap kesehatan dinilai jauh lebih berbahaya.
Ahli gizi Raksha Shah menjelaskan bahwa kedekatan lemak visceral dengan organ-organ penting membuatnya lebih aktif secara metabolik. Kondisi ini dapat memicu peradangan kronis dan gangguan metabolisme dalam jangka panjang.
“Lemak visceral lebih terlibat dalam proses metabolisme karena kedekatannya dengan organ-organ seperti hati, pankreas, dan usus, itulah sebabnya lemak ini berkaitan erat dengan hasil kesehatan yang buruk daripada jenis lemak lainnya,” ujar Shah, Senin 5 Januari 2026.
Kabar baiknya, lemak perut dalam tergolong responsif terhadap perubahan gaya hidup. Dengan menghindari sejumlah kebiasaan tertentu, risiko penumpukan lemak visceral dapat ditekan secara signifikan.
Salah satu kebiasaan yang paling sering luput disadari adalah konsumsi minuman manis.Minuman seperti soda, teh manis kemasan, dan minuman berperisa mengandung gula tambahan tinggi namun minim serat dan tidak memberikan rasa kenyang.
Asupan gula berlebih akan diolah oleh hati menjadi lemak, yang dalam jangka panjang meningkatkan penumpukan lemak di sekitar organ dalam.
Kebiasaan lain yang berkontribusi besar adalah stres yang tidak dikelola dengan baik. Ahli gizi Toby Amidor menyebutkan stres kronis dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Saat stres berkepanjangan, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi, yang mendorong penyimpanan lemak di area perut.
“Stres kronis tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh dan menyebabkan penumpukan lemak visceral yang lebih banyak,” jelas Amidor. Mengelola stres melalui olahraga ringan, meditasi, atau aktivitas relaksasi dinilai mampu membantu menekan efek tersebut.
Merokok juga menjadi faktor risiko tersembunyi. Meski sebagian perokok terlihat memiliki berat badan lebih rendah, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perokok justru cenderung memiliki lemak visceral lebih tinggi.
Nikotin diketahui meningkatkan kadar kortisol dan memengaruhi distribusi lemak dalam tubuh, sehingga lemak lebih mudah menumpuk di area perut meski tubuh tampak kurus.
Selain itu, kurang tidur turut berperan besar dalam penumpukan lemak perut dalam. Kurang tidur kronis dapat meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dan menurunkan hormon leptin yang memberi sinyal kenyang.
Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah makan berlebihan, terutama makanan tinggi kalori. “Membuat jadwal tidur yang konsisten dan rutinitas tidur yang menenangkan dapat secara signifikan mendukung tujuan kesehatan,” ujar Amidor.
Untuk membantu mengurangi lemak visceral, para ahli menyarankan penerapan pola hidup sehat secara menyeluruh. Asupan protein yang cukup membantu menjaga massa otot dan rasa kenyang, sementara serat dari sayur, buah, dan biji-bijian mendukung kesehatan metabolik.
Aktivitas fisik teratur, baik latihan kardio maupun latihan kekuatan, terbukti efektif menekan lemak visceral dan menurunkan risiko penyakit kronis.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!