Diet Mediterania Kembali Jadi yang Terbaik di Dunia, Tujuh Tahun Berturut-turut

Diet Mediterania Kembali Jadi yang Terbaik di Dunia, Tujuh Tahun Berturut-turut

Diet Mediterania menjadi metode diet terbaik (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Diet Mediterania kembali dinobatkan sebagai pola makan terbaik di dunia selama tujuh tahun berturut-turut versi U.S. News and World Report. Pola makan ini dinilai mudah dijalani dalam jangka panjang, fleksibel, serta terbukti mendukung kesehatan jantung dan mencegah berbagai penyakit kronis.

Keberhasilan Diet Mediterania mempertahankan predikat tersebut memperkuat posisinya sebagai pola makan berkelanjutan, bukan sekadar tren diet sesaat.

Mengutip laporan GQ, Diet Mediterania sejatinya bukan diet ketat yang penuh pantangan, melainkan pola hidup yang menekankan konsumsi makanan alami dan kebiasaan makan yang lebih sadar.

Ahli gizi Maya Feller, MS, RD, CDN, menjelaskan bahwa istilah “diet” kerap disalahartikan sebagai pembatasan ekstrem. Menurutnya, Diet Mediterania justru dirancang agar bisa diterapkan secara realistis dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini bukan diet dalam arti membatasi, melainkan pola makan yang bisa disesuaikan dengan preferensi, budaya, dan akses pangan seseorang,” ujar Feller, yang juga menjadi anggota panel ahli Best Diets U.S. News and World Report.

Diet Mediterania mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an melalui penelitian Ancel Keys yang meneliti hubungan antara pola makan masyarakat di wilayah Mediterania dengan rendahnya angka penyakit jantung.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang menerapkan pola makan ini memiliki profil kolesterol lebih baik serta risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. “Penelitian menunjukkan mereka yang mengikuti pola makan Mediterania cenderung memiliki kesehatan jantung yang lebih baik,” kata Feller.

Pola makan Mediterania menitikberatkan konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, minyak sehat seperti minyak zaitun, serta produk fermentasi. Sebaliknya, konsumsi daging merah, makanan ultra-proses, dan gula berlebih sangat dibatasi.

Praktisi kesehatan fungsional Maggie Berghoff menilai keunggulan utama Diet Mediterania terletak pada fokusnya terhadap lemak sehat dan makanan nabati tanpa keharusan menghitung kalori secara ketat. “Ini pola makan jangka panjang, bukan diet pembatasan sementara,” ujarnya kepada GQ.

Menariknya, prinsip Diet Mediterania dapat diterapkan menggunakan bahan pangan lokal tanpa kehilangan manfaat kesehatannya. Di Indonesia, ikan laut seperti tongkol, kembung, dan tuna dapat menjadi sumber omega-3 pengganti salmon. Kacang merah, kacang hijau, hingga tempe bisa menggantikan chickpeas atau lentil sebagai protein nabati.

Sayuran lokal seperti bayam, kangkung, daun kelor, dan labu juga sejalan dengan prinsip diet ini. Produk fermentasi tradisional seperti tempe dan tape singkong pun selaras dengan konsep makanan fermentasi dalam Diet Mediterania.

Diet Mediterania mendorong konsumsi buah dan sayur di setiap waktu makan, ikan beberapa kali dalam seminggu, serta kacang-kacangan dan biji-bijian utuh secara rutin. Yogurt atau produk fermentasi dianjurkan dalam porsi wajar.

Sementara itu, karbohidrat olahan seperti roti putih, minuman manis, serta makanan ultra-proses disarankan untuk dibatasi. Alkohol yang sering diasosiasikan dengan Diet Mediterania tidak bersifat wajib dan sebaiknya dikonsumsi sangat terbatas atau dihindari.

Berbagai penelitian menunjukkan Diet Mediterania mampu menurunkan risiko penyakit jantung hingga 30 persen pada kelompok berisiko tinggi. American Heart Association menyebut pola makan ini efektif menurunkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan kolesterol.

“Pola makan berbasis tanaman sangat mendukung pengelolaan gula darah,” kata Feller. Studi lain juga mengaitkan Diet Mediterania dengan peningkatan kepadatan tulang, kekuatan otot, serta penurunan peradangan kronis.

Dikutip dari National Foundation for Cancer Research, pola makan ini turut berperan dalam menurunkan risiko beberapa jenis kanker. Dua wilayah dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia, Ikaria di Yunani dan Sardinia di Italia, diketahui menerapkan pola hidup Mediterania secara konsisten.

Selain makanan sehat, kebiasaan makan bersama keluarga, aktivitas fisik ringan, dan hubungan sosial yang kuat dinilai berkontribusi besar terhadap umur panjang. “Makan dalam komunitas membuat orang lebih bahagia dan sehat,” ujar Feller.

Para ahli menyarankan memulai Diet Mediterania secara bertahap dan realistis dengan makanan yang sudah akrab di lidah. Dengan pendekatan fleksibel dan berbasis budaya lokal, Diet Mediterania dinilai relevan diterapkan di Indonesia tanpa harus mengubah pola makan secara ekstrem.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!