JAKARTA, NOVOX.ID - Kasus flu dan infeksi saluran pernapasan tengah marak, terutama di musim hujan ketika daya tahan tubuh lebih mudah menurun.
Selain menjaga pola hidup sehat, para ilmuwan menyoroti peran suplemen tertentu yang dinilai mampu membantu tubuh melawan infeksi, salah satunya adalah vitamin D.
Kesimpulan tersebut diperoleh dari sebuah riset besar yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah The American Journal of Clinical Nutrition. Penelitian ini melibatkan lebih dari 36 ribu partisipan yang tergabung dalam UK Biobank, sebuah basis data biomedis jangka panjang berskala besar di Inggris.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kekurangan vitamin D parah memiliki risiko rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan hingga 33 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang kadar vitamin D-nya mencukupi.
Dalam studi tersebut, kadar vitamin D rendah diukur pada angka 15 nmol/L, sementara kadar yang dianggap lebih optimal berada di kisaran 75 nmol/L.
Temuan ini sempat mengejutkan sejumlah kalangan medis. Namun, para ahli menilai vitamin D memang memiliki peran penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Amesh Adalja, ahli penyakit menular dan peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security, menjelaskan bahwa vitamin D berkontribusi langsung terhadap respons imun manusia.
“Vitamin D berperan dalam fungsi sistem kekebalan tubuh, baik kekebalan bawaan maupun kekebalan adaptif yang belajar melawan kuman setelah terpapar,” ujarnya seperti dikutip dari Prevention.
Vitamin D diketahui membantu tubuh mengenali dan melawan virus serta bakteri penyebab infeksi pernapasan. Kekurangan vitamin ini membuat respons imun menjadi lebih lemah, sehingga tubuh lebih rentan terserang penyakit dan mengalami gejala yang lebih berat.
Lalu, berapa jumlah vitamin D yang dibutuhkan agar manfaat tersebut bisa dirasakan? Para ahli merekomendasikan asupan harian vitamin D sebesar 600 IU untuk orang dewasa. Sementara bagi mereka yang berusia 70 tahun ke atas, kebutuhan vitamin D meningkat menjadi setidaknya 800 IU per hari.
Kekurangan vitamin D cukup umum terjadi, terutama pada orang yang jarang terpapar sinar matahari, memiliki intoleransi laktosa, menjalani pola makan vegan, atau jarang mengonsumsi makanan sumber vitamin D seperti ikan berlemak dan produk susu fortifikasi.
Gejala kekurangan vitamin D tidak selalu terasa jelas. Namun, beberapa tanda yang sering muncul antara lain mudah lelah, sulit berkonsentrasi atau brain fog, perubahan suasana hati, lebih sering jatuh sakit, hingga risiko patah tulang pada kondisi yang parah.
Di tengah meningkatnya kasus flu saat musim hujan, para ahli menekankan bahwa konsumsi vitamin D sebaiknya tetap disertai pola hidup sehat, istirahat cukup, asupan nutrisi seimbang, serta kebiasaan menjaga kebersihan agar tubuh tetap terlindungi dari infeksi.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!