Jangan Tunggu Haus, Dokter Ungkap Bahaya Kurang Minum Air Putih

Jangan Tunggu Haus, Dokter Ungkap Bahaya Kurang Minum Air Putih

Jangan Tunggu Haus, Dokter Ungkap Bahaya Kurang Minum Air Putih (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Pertanyaan seberapa sering tubuh perlu terhidrasi setiap hari kerap dianggap sepele. Padahal, asupan cairan memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan metabolisme, fungsi organ, hingga kemampuan konsentrasi. Kurang minum air putih tidak hanya memicu rasa haus, tetapi juga dapat memengaruhi kinerja tubuh secara menyeluruh.

Dokter spesialis penyakit dalam, Cynthia Natalia, menjelaskan bahwa dehidrasi sering kali tidak disadari karena gejalanya muncul bertahap. “Kurang minum air putih bukan hanya merasa haus, tapi juga berdampak pada kinerja tubuh secara menyeluruh,” ujar Cynthia dalam keterangan tertulis, Kamis 30 Januari 2026.

Menurut Cynthia, tubuh masih mampu beradaptasi ketika tidak mendapatkan cairan dalam satu jam pertama. Namun setelah itu, kadar cairan dalam tubuh mulai menurun secara perlahan. Produksi air liur berkurang sehingga mulut terasa kering, sementara otak mulai mengirimkan sinyal haus. Pada fase ini, konsentrasi dapat ikut menurun, terutama jika seseorang banyak beraktivitas, berada di ruangan ber-AC, atau bekerja dalam tekanan.

Dampak dehidrasi ringan akan semakin terasa ketika tubuh tidak memperoleh asupan cairan selama tiga jam. Beberapa orang mulai mengalami sakit kepala ringan, cepat lelah, hingga kesulitan fokus. Tanda lain yang sering diabaikan adalah warna urine yang menjadi lebih pekat serta kondisi kulit yang terasa lebih kering.

“Kebiasaan kurang minum air putih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti batu ginjal akibat penumpukan mineral yang tidak terlarut dengan baik, serta gangguan konsentrasi dan kelelahan kronis, terutama pada pekerja aktif dan lansia,” kata Cynthia.

Ia menegaskan, konsumsi air minum sebaiknya dilakukan secara rutin setiap satu hingga dua jam sekali. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan cairan harian, tetapi menjaga tubuh tetap berada dalam kondisi terhidrasi secara konsisten.

Menjaga hidrasi juga tidak terlepas dari kualitas air yang dikonsumsi. Penelitian yang dilakukan Bint-E-Zahra, ahli biologi molekuler dari Institute of Molecular Biology & Biotechnology, Pakistan, menunjukkan bahwa konsumsi minuman berperasa dan bergula dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik. Dalam riset yang diterbitkan National Journal of Health Sciences pada 2019, konsumsi air minum murni disebut mampu menurunkan risiko penurunan fungsi ginjal hingga 11 persen.

“Air minum murni berperan penting dalam menjaga fungsi ginjal dan metabolisme tubuh,” tulis Bint-E-Zahra dalam penelitiannya.

Sejalan dengan itu, Head of Marketing Amidis, Astrid Adelaide Siregar, menekankan pentingnya air yang telah melalui proses multifiltrasi dan distilasi. “Proses multifiltrasi dan distilasi merupakan teknologi keamanan ekstra untuk menjaga ginjal. Uap air yang dihasilkan benar-benar murni untuk dikonsumsi karena tidak ada kontaminan apapun,” ujarnya.

Dengan menjaga kebiasaan minum air secara teratur dan memilih air minum berkualitas, tubuh dapat terhindar dari berbagai dampak dehidrasi yang kerap datang tanpa disadari.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!