Heboh Isu GERD Usai Lula Lahfah Meninggal, Dokter Tegaskan Tak Sebabkan Kematian Mendadak

Heboh Isu GERD Usai Lula Lahfah Meninggal, Dokter Tegaskan Tak Sebabkan Kematian Mendadak

Dokter Tegaskan Gerd Tak Sebabkan Kematian Mendadak (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Wafatnya selebgram Lula Lahfah memicu perbincangan luas di media sosial. Sejumlah netizen ramai memperdebatkan kemungkinan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) menjadi penyebab kematian, mengingat Lula diketahui memiliki riwayat penyakit tersebut. Namun hingga kini, penyebab pasti meninggalnya Lula belum diumumkan secara resmi oleh pihak berwenang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan masyarakat diminta tidak berspekulasi. “Saat ini penyebab kematian masih kami dalami. Diperlukan autopsi untuk memastikan penyebab meninggal dunia korban,” ujarnya. Ia meminta publik menunggu hasil pemeriksaan resmi dan tidak mengaitkan kematian Lula dengan dugaan medis tanpa dasar.

Meski demikian, diskusi soal GERD telanjur ramai di jagat maya. Lula Lahfah sebelumnya memang pernah mengungkapkan bahwa dirinya mengidap GERD, infeksi saluran kemih, hingga peradangan usus. Kondisi tersebut membuat sebagian netizen bertanya-tanya apakah GERD bisa menyebabkan kematian secara mendadak.

Ahli gastroenterologi Prof Ari Fahrial Syam pun angkat bicara untuk meluruskan informasi yang beredar. Ia menegaskan bahwa GERD pada dasarnya bukan penyakit yang memicu kematian secara langsung. “GERD itu tidak menyebabkan kematian mendadak,” ujar Ari, seperti dikutip dari detikHealth, Sabtu 24 Januari 2026.

Namun demikian, ia menjelaskan bahwa GERD yang tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi pasien apabila disertai komplikasi lain. Salah satu risiko yang mungkin terjadi adalah infeksi sistemik. “Yang paling dekat bisa menyebabkan kondisi infeksi, kemudian terjadi infeksi sistemik atau sepsis. Itu memang bisa berujung kepada kematian,” jelasnya.

Ari menambahkan, pasien dengan riwayat GERD sering kali memerlukan antibiotik atau obat pereda nyeri saat mengalami gangguan kesehatan lain. Dalam kondisi tertentu, obat-obatan tersebut justru bisa memicu kekambuhan asam lambung dan menurunkan nafsu makan, sehingga kondisi pasien semakin melemah. “Bisa saja GERD-nya kambuh, nafsu makannya menurun, dan akhirnya kondisi ini bertambah buruk,” katanya.

Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh bagi pasien yang mengalami mual dan muntah berkepanjangan. Pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi diperlukan untuk memastikan kondisi saluran cerna. “Kalau ada masalah GERD atau maag, sebaiknya dievaluasi secara tuntas,” tegasnya.

Ari juga mengingatkan bahwa pengobatan GERD harus dilakukan secara teratur dan tidak boleh diabaikan. “Untuk yang punya sakit GERD, berobatlah secara teratur dan pastikan kondisinya terkontrol agar ketika timbul masalah lain tidak memperburuk keadaan,” ujarnya.

Di tengah duka atas kepergian Lula Lahfah, para ahli mengimbau masyarakat untuk lebih bijak menyikapi informasi kesehatan dan tidak menarik kesimpulan medis tanpa dasar yang jelas.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!