JAKARTA, NOVOX.ID - Selama bertahun-tahun, garam kerap dicap sebagai musuh utama dalam pola makan sehat. Berbagai tren diet dan imbauan kesehatan umum terus mendorong masyarakat untuk membatasi konsumsi garam. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi semua orang.
Mengutip laman Hindustan Times, Sabtu Januari 2026, ahli jantung sekaligus spesialis transplantasi jantung Dr. Dmitry Yaranov menjelaskan bahwa garam atau natrium tidak selalu berbahaya. Risiko justru muncul pada kelompok tertentu dengan kondisi medis khusus, sehingga penting memahami siapa saja yang perlu membatasi asupan natrium.
“Pada tubuh tertentu, garam bukan sekadar bumbu. Garam bisa menjadi bahan bakar bagi penyakit,” ujar Yaranov.
Penderita Gagal Jantung
Pada pasien gagal jantung, kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan yang memperburuk penumpukan cairan dalam tubuh. Kondisi ini kerap menyebabkan sesak napas, pembengkakan, hingga meningkatkan frekuensi rawat inap. Dalam jangka panjang, asupan garam berlebih juga dikaitkan dengan penurunan angka harapan hidup pasien.
Hipertensi Resisten
Garam juga sangat berisiko bagi penderita hipertensi resisten, yakni kondisi tekanan darah tinggi yang memerlukan tiga hingga empat jenis obat agar tetap terkendali.
“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga sampai empat obat, garam bukanlah sesuatu yang netral. Ini adalah bentuk sabotase,” tegas Yaranov.
Penyakit Gijal Kronis
Pasien dengan penyakit ginjal kronis umumnya dianjurkan mengurangi konsumsi garam. Natrium berlebih dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan tubuh mengatur keseimbangan cairan, sehingga memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Hipertensi Portal dan Sirosis Hati
Menurut Yaranov, asupan garam berlebihan juga dapat memperparah hipertensi portal, yaitu tekanan darah tinggi pada sistem vena portal akibat sirosis hati. Natrium memicu retensi cairan yang meningkatkan risiko asites atau penumpukan cairan di rongga perut.
Lansia dengan Kekakuan Pembulu Darah
Pada kelompok lansia, arteri yang menua cenderung kehilangan kemampuan mengelola natrium secara efisien. Akibatnya, konsumsi garam berlebih lebih mudah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan pada usia yang lebih muda.
Garam untuk Kesehatan Tubuh
Meski demikian, Yaranov menegaskan bahwa bagi individu dengan kondisi kesehatan normal, natrium bukan sekadar penambah rasa. Zat ini berperan penting dalam fungsi saraf, kontraksi otot, keseimbangan cairan, serta pengaturan tekanan darah.
Menurutnya, kunci utama terletak pada memahami siapa yang mampu mentoleransi natrium dan siapa yang perlu membatasinya.
“Garam bukan musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan umat manusia. Yang berbahaya adalah saran kesehatan yang terlalu disederhanakan. Natrium itu penting—untuk saraf, otot, pengaturan tekanan darah, dan kehidupan,” pungkasnya.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!