JAKARTA, NOVOX.ID - Migrain kerap dianggap sebagai sakit kepala biasa, padahal kondisi ini dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Nyeri yang muncul sering kali intens, berlangsung lama, dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Secara medis, migrain merupakan jenis nyeri kepala dengan sensasi berdenyut kuat, umumnya terjadi di satu sisi kepala. Kondisi ini sering disertai keluhan lain seperti mual, muntah, serta kepekaan berlebih terhadap cahaya dan suara.
Durasi serangan migrain bervariasi, mulai dari beberapa jam hingga berhari-hari. Pada sebagian penderita, rasa nyeri yang berat dapat menghambat pekerjaan, aktivitas sosial, bahkan waktu istirahat.
Dalam sejumlah kasus, migrain disertai gejala awal yang dikenal sebagai aura. Gejala ini dapat berupa gangguan penglihatan seperti kilatan cahaya atau area gelap, hingga sensasi kesemutan dan kesulitan berbicara.
Mengutip laporan BBC, peneliti genetika dari Queensland University of Technology, Australia, Dale Nyholt, mengungkapkan bahwa faktor keturunan berperan besar dalam terjadinya migrain. Menurutnya, migrain tidak hanya dipicu oleh faktor lingkungan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh susunan genetik seseorang.
Nyholt menjelaskan, studi pada anak kembar menunjukkan adanya kontribusi genetik yang kuat. Jika orang tua atau kakek-nenek memiliki riwayat migrain, maka risiko kondisi tersebut menurun ke generasi berikutnya cukup tinggi.
Ia memperkirakan faktor genetik berkontribusi sekitar 30 hingga 60 persen terhadap terjadinya migrain. Sementara itu, sisanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan, pola hidup, dan kebiasaan sehari-hari.
Dalam penelitiannya, Nyholt menelaah data genetik lebih dari 100 ribu penderita migrain dan membandingkannya dengan ratusan ribu individu tanpa migrain. Dari analisis tersebut, ia menemukan lebih dari 100 penanda genetik yang berkaitan dengan peningkatan risiko migrain.
Menurutnya, migrain bukan disebabkan oleh satu gen tunggal, melainkan melibatkan banyak variasi gen kecil yang saling berperan. Beberapa penanda genetik tersebut juga diketahui berkaitan dengan gangguan lain, seperti depresi dan diabetes, yang mengindikasikan keterkaitan migrain dengan fungsi otak dan sistem saraf.
Meski demikian, Nyholt menegaskan bahwa riset mengenai migrain masih terus berkembang. Hingga saat ini, belum ditemukan gen spesifik yang dapat langsung dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan obat baru.
Selain faktor genetik, serangan migrain juga memiliki tahapan yang berbeda-beda dan tidak selalu dialami secara lengkap oleh setiap penderita. Secara umum, migrain dapat melalui empat fase, yakni prodrom, aura, fase nyeri, dan postdrom.
Fase prodrom biasanya muncul satu hingga dua hari sebelum nyeri kepala terjadi. Pada tahap ini, tubuh sering memberikan sinyal awal yang kerap tidak disadari sebagai tanda serangan migrain akan datang.
Mengacu pada Mayo Clinic, beberapa gejala prodrom yang umum terjadi antara lain perubahan suasana hati, keinginan makan tertentu, leher terasa kaku, frekuensi buang air kecil meningkat, penumpukan cairan tubuh, serta sering menguap tanpa sebab yang jelas.
Penanganan migrain dapat dilakukan melalui penggunaan obat-obatan untuk mencegah maupun meredakan nyeri. Selain itu, penerapan gaya hidup sehat serta pengelolaan stres juga berperan penting dalam mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan serangan migrain.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!