JAKARTA, NOVOX.ID - Virus Nipah kembali menjadi
sorotan dunia kesehatan setelah sejumlah kasus terkonfirmasi di beberapa
wilayah Asia, termasuk India, memicu kewaspadaan global.
Selain gejala klinis klasik seperti demam, sakit kepala,
nyeri otot, gangguan pernapasan, dan radang otak, laporan terbaru menyebut
bahwa salah satu gejala yang tidak biasa namun signifikan adalah rasa ngantuk
berlebihan secara tidak wajar pada pasien yang terinfeksi.
Virus Nipah merupakan virus zoonotik yang ditularkan dari hewan ke manusia terutama melalui kelelawar buah dan
babi serta dapat menyebar
antar manusia dalam beberapa kondisi.
Penularan itu bisa terjadi melalui kontak langsung dengan
hewan atau produk hewan yang terkontaminasi, serta dari orang ke orang melalui
cairan tubuh dan droplet.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menempatkan virus
Nipah sebagai salah satu patogen prioritas karena tingkat kematian yang tinggi,
yang bisa mencapai puluhan hingga lebih dari setengah kasus bila tidak
ditangani dengan cepat.
Karena manifestasi klinisnya bisa mirip penyakit lain,
terutama di awal infeksi, gejala seperti rasa kantuk yang ekstrem atau kantuk
berkepanjangan tanpa sebab jelas kerap diabaikan.
Padahal, fenomena ini dapat mencerminkan peradangan pada
sistem saraf pusat akibat virus yang mulai menyerang struktur otak (encephalitis).
Infeksi Nipah dapat membuat pasien merasa sangat lelah, kehilangan kesadaran parsial, atau tampak “tidur terlalu banyak” di luar pola tidur biasa, hal yang berbeda dengan kantuk karena kurang tidur. Gejala lain seperti kebingungan, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran juga dapat menyertai kondisi ini pada fase lanjut.
Untuk itu, para ahli kesehatan menekankan bahwa meskipun
kantuk biasa sering dianggap remeh, ngantuk yang sangat berlebihan tanpa alasan
yang jelas terutama bila disertai demam, gangguan pernapasan, atau sakit kepala
hebat harus diwaspadai sebagai potensi gejala virus Nipah.
Ini menjadi semakin penting di tengah situasi di mana
negara-negara Asia menaikkan kewaspadaan, memperketat skrining kesehatan di
bandara, dan meningkatkan surveilans kasus misterius.
Di Singapura misalnya, otoritas kesehatan memperketat
pemeriksaan suhu tubuh untuk penumpang yang datang dari daerah terdampak Nipah,
sementara Indonesia terus memperkuat deteksi dini dan upaya antisipatif
meskipun belum ada kasus dikonfirmasi.
Meski belum ada vaksin atau terapi khusus untuk virus Nipah,
langkah paling efektif tetap deteksi dini, isolasi kasus, serta tindakan
pencegahan transmisi melalui kebersihan, pengawasan hewan sumber penularan, dan
kewaspadaan masyarakat serta tenaga medis.
Apabila seseorang menunjukkan gejala yang mencurigakan termasuk ngantuk berlebihan yang tidak lazim disertai gejala lain seperti demam dan sesak napas, segera mencari pertolongan medis sangat dianjurkan.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!