JAKARTA, NOVOX.ID - Penurunan kekuatan dan massa otot kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Namun, kondisi ini bisa menjadi tanda sarkopenia, yakni gangguan kesehatan serius yang ditandai dengan penurunan progresif massa, kekuatan, dan fungsi otot.
Meski identik dengan lansia, sarkopenia kini mulai banyak ditemukan pada usia lebih muda akibat gaya hidup sedentari, kurang asupan gizi, serta penyakit tertentu.
Praktisi kesehatan dan kebugaran, Vardian, menegaskan bahwa otot memiliki peran jauh lebih penting dibanding sekadar alat gerak. Menurutnya, otot adalah organ hidup yang sangat menentukan kesehatan metabolik seseorang.
“Otot berperan besar dalam mengatur metabolisme. Dia adalah tempat penyimpanan gula terbaik. Kalau gudang otot kita besar, gula akan masuk ke otot, bukan menumpuk di lemak,” ujarnya.
Selain mengatur metabolisme gula, otot juga berperan menjaga keseimbangan hormon seperti testosteron dan estrogen, serta membantu meredam peradangan dalam tubuh.
Otot yang kuat menopang sendi dan tulang dengan lebih baik sehingga dapat menurunkan risiko cedera, termasuk saat melakukan aktivitas fisik berat.
Vardian menyebut membangun otot sebagai investasi kesehatan jangka panjang yang kerap diabaikan banyak orang. “Nabung otot itu penting, terutama mulai usia 30-an. Angkat beban, karena otot sepenting itu,” katanya.
Sarkopenia sering berkembang perlahan dan luput disadari. Gejalanya bisa berupa tubuh mudah lelah, kekuatan menurun, sulit melakukan aktivitas sederhana seperti berdiri dari kursi atau naik tangga, hingga gangguan keseimbangan yang meningkatkan risiko jatuh. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berujung pada disabilitas dan ketergantungan fisik.
Faktor penuaan memang berperan, terutama setelah usia 40 hingga 50 tahun. Namun, gaya hidup kurang aktif, kekurangan protein dan kalori, serta penyakit kronis seperti gangguan ginjal atau jantung dapat mempercepat terjadinya sarkopenia.
Diagnosis dapat dilakukan melalui pengukuran sederhana seperti lingkar betis, tes kekuatan genggaman tangan, hingga pemeriksaan lanjutan menggunakan DEXA atau BIA.
Upaya pencegahan menjadi kunci utama. Latihan kekuatan atau resistance training secara rutin terbukti efektif menjaga dan meningkatkan massa otot, terutama bila dibarengi asupan protein yang cukup. Menjaga otot sejak dini dinilai mampu mempertahankan kualitas hidup hingga usia lanjut.
“Mulai bergerak dan membangun otot hari ini adalah tabungan kesehatan untuk masa depan,” tutup Vardian.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!