Psikolog Bongkar 9 Ciri Orang Pemalas, Nomor 1 Paling Sering Tak Disadari

Psikolog Bongkar 9 Ciri Orang Pemalas, Nomor 1 Paling Sering Tak Disadari

Ilustrasi orang malas (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Istilah “malas” kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap kurang produktif, enggan berusaha, atau tidak bersemangat menjalani aktivitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, label ini sering muncul ketika seseorang menunda pekerjaan, menghindari tanggung jawab, atau terlihat pasif. Namun, psikologi memandang kemalasan sebagai fenomena yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar keengganan bekerja.

Psikolog Fuschia Sirois dari University of Durham menjelaskan bahwa kemalasan bukan kondisi sesaat akibat kelelahan atau kebutuhan untuk beristirahat.

Dikutip dari Your Tango, ia menyebut perilaku malas sebagai pola sikap dan kebiasaan yang berlangsung konsisten dalam jangka waktu tertentu. Artinya, seseorang tidak bisa langsung disebut malas hanya karena menunda pekerjaan sekali atau dua kali.

Salah satu ciri yang paling sering muncul adalah kebiasaan menunda tanpa alasan yang jelas. Orang dengan kecenderungan malas kerap menunda tugas meski tidak ada hambatan nyata.

Bukan karena tidak mampu, melainkan karena enggan memulai. Sirois menekankan bahwa menunda sering kali berkaitan dengan emosi negatif terhadap tugas tersebut, bukan pada tingkat kesulitannya. Semakin seseorang mengkritik dirinya sendiri karena menunda, semakin besar kemungkinan perilaku itu berulang.

Ciri lain yang menonjol adalah minimnya inisiatif. Orang yang benar-benar malas jarang mengambil langkah pertama, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial. Mereka cenderung menunggu perintah atau dorongan dari orang lain.

Berbeda dengan individu yang memiliki ambisi, yang secara konsisten berusaha mencapai tujuan, orang dengan kecenderungan malas umumnya tidak terlalu peduli pada pencapaian jangka panjang.

Saat menghadapi kesulitan, tantangan kecil pun dapat terasa sangat berat. Ketika sebuah tugas mulai menuntut usaha lebih, mereka cenderung menyerah atau mencari jalan pintas.

Kondisi ini sering diperparah dengan tidak adanya tujuan jangka panjang yang jelas. Tanpa target hidup atau rencana masa depan, motivasi untuk berusaha pun menjadi lemah.

Masalah konsistensi juga menjadi ciri penting. Menjaga rutinitas sederhana seperti bangun pagi, berolahraga, atau menyelesaikan pekerjaan tepat waktu kerap terasa sulit.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan sekitar 66 hari untuk membentuk kebiasaan baru hingga menjadi otomatis. Tanpa komitmen dan konsistensi, kebiasaan positif sulit bertahan.

Dalam aktivitas sehari-hari, orang yang malas biasanya hanya melakukan hal seminimal mungkin.

Mereka bekerja sekadar memenuhi kewajiban tanpa dorongan untuk memberikan hasil terbaik. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar hal baru pun relatif rendah karena dianggap merepotkan dan membutuhkan usaha tambahan.

Perubahan juga sering ditolak. Meski kondisi saat ini tidak ideal, mereka lebih memilih bertahan daripada harus beradaptasi.

Di luar itu, keterlibatan sosial pun cenderung terbatas. Tanggung jawab tambahan, termasuk membantu orang lain, sering dihindari karena dianggap menyita waktu dan energi.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak semua perilaku yang tampak malas benar-benar disebabkan oleh kemalasan. Dalam banyak kasus, hal ini berkaitan dengan kelelahan mental, stres berkepanjangan, burnout, atau bahkan gangguan psikologis tertentu.

Karena itu, penting untuk melihat konteks dan pola perilaku secara menyeluruh sebelum memberi label. Memahami akar masalah menjadi langkah awal untuk membangun motivasi dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!