JAKARTA, NOVOX.ID - Diet ketat yang menjanjikan penurunan berat badan secara cepat kerap menjadi pilihan banyak orang. Namun, berbagai penelitian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa pola makan yang terlalu membatasi justru sulit dipertahankan dan sering berakhir dengan kenaikan berat badan kembali.
Temuan ini dirangkum dalam laporan ilmiah yang dipublikasikan Science Alert, berdasarkan kajian psikologi dan fisiologi tubuh manusia.
Banyak orang tergoda menjalani diet ekstrem atau tantangan diet singkat dengan harapan hasil instan. Sayangnya, riset memperkirakan hanya sekitar 20 persen orang yang berhasil mempertahankan berat badan ideal setelah diet dalam jangka panjang. Sisanya mengalami kenaikan berat badan kembali, bahkan melebihi kondisi awal sebelum diet.
Psikolog dan ahli gizi menilai kegagalan tersebut berkaitan erat dengan aturan makan yang terlalu ketat. Diet yang melarang makanan favorit justru memicu respons berlawanan dari tubuh.
Makanan seperti cokelat, es krim, dan camilan asin diketahui merangsang sistem penghargaan di otak dan memberikan rasa senang. Ketika makanan tersebut dilarang, keinginan untuk mengonsumsinya justru semakin kuat.
Ngidam bukan sekadar rasa lapar biasa. Ngidam merupakan dorongan intens untuk mengonsumsi makanan tertentu, meski tubuh sebenarnya tidak membutuhkan tambahan energi. Dorongan ini sering muncul saat seseorang mengalami stres, kelelahan, atau pada sore hingga malam hari ketika kontrol diri menurun.
Tinjauan ilmiah menunjukkan bahwa orang yang sengaja menghindari makanan tertentu justru mengalami peningkatan keinginan terhadap makanan tersebut, yang kerap berujung pada makan berlebihan.
Masalah diet ketat juga berkaitan dengan respons alami tubuh terhadap pembatasan kalori. Nafsu makan dan rasa kenyang diatur oleh sistem hormon yang kompleks. Ketika asupan kalori dikurangi secara drastis, tubuh meningkatkan rasa lapar, mengurangi rasa kenyang, dan menurunkan energi yang dibakar.
Akibatnya, sekitar 50 hingga 70 persen berat badan yang turun saat diet berpotensi kembali naik dalam beberapa waktu.
Selain itu, penurunan berat badan cepat berisiko menghilangkan massa otot. Padahal, otot berperan penting dalam metabolisme tubuh. Diet rendah kalori dan rendah protein meningkatkan risiko kehilangan otot, sehingga berat badan menjadi lebih mudah naik kembali.
Dosen nutrisi dan perilaku dari Bournemouth University, Chloe Casey, menegaskan bahwa pembatasan kalori sering kali berbalik merugikan.
“Membatasi kalori justru memicu rasa lapar dan ngidam karena tubuh dan otak mencoba melawan kondisi tersebut,” ujarnya.
Ia menyarankan fokus pada kualitas makanan, seperti asupan protein dan serat yang membantu rasa kenyang lebih lama.
Senada, dosen senior nutrisi Bournemouth University, Sarah Hillier, menyebut perubahan kebiasaan secara bertahap lebih efektif dibanding diet ekstrem. Target realistis dan perubahan kecil yang konsisten dinilai lebih mampu bertahan dalam jangka panjang.
Riset ini menegaskan bahwa diet ketat bukan solusi ideal untuk menurunkan berat badan secara berkelanjutan. Pendekatan seimbang dengan pola makan bergizi dan perubahan gaya hidup bertahap justru memberikan hasil yang lebih stabil dan tahan lama.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!