JAKARTA, NOVOX.ID - Menentukan waktu yang tepat untuk menikah menjadi keputusan krusial karena berdampak luas pada kehidupan seseorang. Faktor utama yang perlu diperhatikan bukan semata durasi pacaran, melainkan kesiapan emosional dan keseriusan dalam menjalani hubungan.
Hubungan yang sehat dan berkelanjutan idealnya melalui sejumlah tahapan. Psikolog John Van Epp dalam bukunya How to Avoid Falling in Love With a Jerk mengemukakan lima fase penting dalam hubungan, yakni pengenalan, kepercayaan, ketergantungan, komitmen, dan keintiman fisik.
Proses mengenal pasangan secara utuh membutuhkan komunikasi terbuka, waktu kebersamaan, serta pengalaman menghadapi berbagai situasi. Van Epp menilai, setidaknya diperlukan waktu sekitar 90 hari untuk melihat karakter asli seseorang secara lebih objektif.
Konten Kreator Azkia Vidiana Putri Nikah Muda Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Aturan Hukumnya
Hubungan yang berkembang terlalu cepat tanpa melewati tahapan tersebut dinilai berisiko. Ketergesaan dapat membuat seseorang jatuh cinta pada gambaran ideal pasangan, bukan pada kepribadian nyata yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan akademik turut memperkuat pandangan ini. Studi Emory University terhadap lebih dari 3.000 pasangan menikah menunjukkan bahwa pasangan yang berpacaran selama satu hingga dua tahun sebelum menikah memiliki risiko perceraian sekitar 20 persen lebih rendah. Sementara pasangan yang berpacaran tiga tahun atau lebih mencatatkan risiko perceraian hingga 50 persen lebih rendah.
Meski demikian, durasi hubungan tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesiapan menikah. Faktor lain seperti usia saat bertemu, pengalaman hubungan sebelumnya, serta keyakinan individu terhadap pemahaman mereka atas pasangan turut berperan penting.
Menjelang pernikahan, terdapat sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan secara matang. Pernikahan bukan solusi instan untuk memperbaiki hubungan, pemahaman terhadap nilai dan prioritas pasangan penting untuk mencegah konflik, serta ekspektasi kebahagiaan saat ini akan memengaruhi komitmen jangka panjang. Selain itu, sifat yang awalnya menarik bisa menjadi sumber masalah, pola konflik cenderung berlanjut setelah menikah, dan hidup bersama tanpa komitmen jelas dapat menurunkan kesiapan menuju pernikahan.
Dengan demikian, keputusan menikah idealnya diambil setelah melalui proses pengenalan yang cukup, pemahaman mendalam terhadap pasangan, serta kesiapan emosional yang matang agar hubungan yang terbangun lebih sehat dan berkelanjutan.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!