JAKARTA, NOVOX.ID - Perubahan warna bibir menjadi biru hingga keunguan kerap terlihat pada kondisi gawat darurat, salah satunya henti jantung. Meski tampak sederhana, tanda fisik ini sejatinya mencerminkan proses serius yang terjadi di dalam tubuh, terutama terkait gangguan suplai oksigen dan aliran darah ke jaringan vital.
Dokter spesialis jantung Siloam Hospital, dr. Vito Damay, menjelaskan bahwa perubahan warna bibir terjadi ketika kadar oksigen dalam darah menurun drastis akibat jantung tidak lagi memompa darah secara efektif. Saat henti jantung terjadi, aliran darah berhenti atau sangat minim sehingga oksigen tidak bisa terdistribusi ke seluruh tubuh.
“Ketika henti jantung terjadi, jantung berhenti memompa darah. Akibatnya, darah tidak mengalir ke paru-paru dan jaringan tubuh sehingga oksigen tidak bisa terdistribusi,” ujar dr. Vito, Minggu 25 Januari 2026.
Dalam kondisi normal, darah yang kaya oksigen berwarna merah cerah. Namun, ketika jantung berhenti bekerja, darah yang beredar menjadi miskin oksigen dan warnanya lebih gelap. Perubahan inilah yang kemudian terlihat secara kasatmata sebagai warna kebiruan atau keunguan pada bibir.
Menurut dr. Vito, bibir menjadi area paling jelas menunjukkan perubahan tersebut karena memiliki banyak pembuluh darah kecil dan lapisan kulit yang tipis. “Perubahan kadar oksigen dalam darah akan lebih cepat terlihat di bibir dibandingkan bagian tubuh lain,” katanya.
Selain faktor oksigen, berkurangnya aliran darah ke kulit juga berperan besar. Pada kondisi henti jantung atau syok berat akibat tekanan darah turun drastis, tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah ke organ-organ vital seperti otak dan jantung, demi mempertahankan fungsi dasar kehidupan.
“Tasik aliran darah ke kulit dan ujung-ujung tubuh akan dikurangi. Tubuh ‘mengorbankan’ kulit untuk menjaga organ vital tetap bekerja,” jelas dr. Vito.
Kombinasi antara darah yang kekurangan oksigen dan minimnya aliran darah ke permukaan tubuh membuat bibir tampak biru, keunguan, bahkan terasa dingin. Pada kondisi yang lebih berat, gejala ini dapat disertai kulit pucat, lembap, serta munculnya keringat dingin.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai sianosis dan menjadi tanda darurat yang tidak boleh diabaikan. Bibir biru atau keunguan, terutama jika disertai sesak napas, nyeri dada, pusing hebat, atau penurunan kesadaran, memerlukan penanganan medis segera.
“Kondisi ini berkaitan langsung dengan keselamatan nyawa. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pasien untuk bertahan,” tegas dr. Vito.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!