JAKARTA, NOVOX.ID - Pemerintah Indonesia menilai dengue masih menjadi salah satu penyakit menular yang sulit dikendalikan di kawasan Asia Tenggara. Kesamaan kondisi lingkungan dan pola hidup masyarakat antarnegara membuat upaya pengendalian perlu dilakukan secara kolektif melalui kepemimpinan regional dan kerja sama lintas batas.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, drg. Murti Utami, menyatakan Indonesia siap menginisiasi kolaborasi tersebut.
“Kita melihat dengue di kawasan ASEAN memang perlu diperkuat penanggulangannya bersama,” ujarnya dalam Forum Regional di Jakarta Selatan, Senin 9 Februari 2026.
Murti menuturkan Indonesia ingin membuka ruang dialog regional yang selama ini belum pernah digelar secara khusus.
“Indonesia siap menjadi tuan rumah forum pertama penanggulangan dengue di ASEAN,” katanya.
Forum regional ini dirancang sebagai platform untuk berbagi praktik terbaik antarnegara anggota. Setiap negara ASEAN akan memaparkan strategi dan pendekatan yang telah diterapkan dalam pengendalian dengue di wilayah masing-masing.
Berbagai masukan tersebut nantinya akan dihimpun sebagai dasar penyusunan kesepakatan bersama. Kesepakatan itu kemudian dibahas lebih lanjut dalam pertemuan lanjutan guna dirumuskan menjadi aksi kolektif di tingkat regional.
Murti menegaskan bahwa kerja sama lintas negara menjadi krusial karena penyakit menular tidak mengenal batas wilayah.
“Kalau kita bisa saling membantu dan saling support, hasilnya tentu lebih baik,” ujarnya.
Ia menilai kesamaan budaya, kondisi lingkungan, serta karakter masyarakat di kawasan ASEAN dapat mempermudah adaptasi kebijakan. Strategi yang terbukti efektif di satu negara berpeluang diterapkan di negara lain.
Dalam kerja sama ini, Indonesia juga membawa visi jangka panjang. Target nol kematian akibat dengue pada 2030 menjadi sasaran bersama yang ingin dicapai di tingkat regional.
“Zero death dari dengue di 2030 itu mimpi kita bersama di regional ASEAN,” kata Murti.
Target tersebut dinilai dapat dicapai melalui pendekatan terpadu dan kolaboratif.
Di dalam negeri, Indonesia mencatat kemajuan dalam pengendalian dengue sepanjang 2025. Pencapaian ini didukung oleh penerapan inovasi kesehatan, seperti teknologi Wolbachia dan vaksin dengue.
Program Wolbachia yang dimulai sejak 2023 hingga kini masih difokuskan di lima kota. Pemerintah memilih menyelesaikan evaluasi awal sebelum memperluas implementasinya.
“Kita masih menyelesaikan yang lima kota karena ini menjadi pembelajaran penting,” ujar Murti.
Hasil evaluasi tersebut akan menjadi landasan untuk menentukan perluasan program ke wilayah lain.
Ke depan, pemerintah membuka peluang ekspansi Wolbachia hingga mencakup puluhan daerah. Namun, perluasan tersebut akan dilakukan secara bertahap dan berdasarkan hasil kajian berbasis data.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!