JAKARTA, NOVOX.ID - Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa dengue atau demam berdarah masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia sejak pertama kali dilaporkan pada 1968 hingga 2024.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, drg. Murti Utami, mengungkapkan bahwa berdasarkan data selama lebih dari lima dekade, penyakit menular masih mendominasi pola penyakit nasional. Dengue menjadi salah satu penyakit yang paling konsisten muncul di berbagai wilayah.
“Penyakit-penyakit yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1968 hingga 2024 tetap berada pada kelompok penyakit umum,” ujarnya dalam pemaparan regional forum, Jakarta Selatan, Senin 9Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa dengue terus berulang dan menjadi masalah kesehatan di banyak daerah di Indonesia.
Menurut Murti, penyebaran dengue sangat dipengaruhi oleh faktor iklim, terutama fenomena El Nino dan La Nina. Perubahan pola hujan dan suhu menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan penularan.
“Transmisi DBD sangat dipengaruhi pola iklim, khususnya El Nino dan La Nina yang memicu perubahan hujan dan suhu,” katanya.
Situasi tersebut membuat upaya pengendalian dengue menjadi semakin menantang.
Murti menyampaikan bahwa berbagai langkah pengendalian sebenarnya telah dilakukan dan menunjukkan hasil positif dengan menurunnya kasus di beberapa daerah. Namun, inovasi tetap diperlukan agar pengendalian dapat berjalan efektif dalam jangka panjang.
“Meski intervensi telah menurunkan kasus, inovasi masih diperlukan untuk menurunkan transmisi DBD dalam jangka panjang,” ujarnya.
Tantangan pengendalian dengue juga diperberat oleh luasnya wilayah Indonesia.
Dengan lebih dari 500 kabupaten dan kota, sekitar 92 persen wilayah di Indonesia masih tergolong endemis dengue. Pada 2025, tercatat sebanyak 161.752 kasus dengue dengan lebih dari 600 kematian.
“Kematian akibat DBD terjadi di 224 daerah atau sekitar 43% dari seluruh kabupaten dan kota,” kata Murti.
Data tersebut menunjukkan bahwa beban dengue belum tertangani secara merata di seluruh daerah.
Secara nasional, target angka kematian akibat dengue pada 2025 ditetapkan di bawah 0,5 persen. Namun, sejumlah daerah masih mencatat angka kematian yang melampaui target.
“Beberapa daerah dengan angka kematian tertinggi berada di Serang Barat, Donggala, Solok Selatan, Kota Salatiga, dan Sumba Timur. Daerah-daerah itu menjadi fokus utama intervensi tahun ini,” ujarnya.
Pengendalian dengue di Indonesia dilakukan melalui tiga pilar utama, yakni pengendalian lingkungan, vektor, dan manusia, yang dijalankan secara terpadu.
Pada aspek lingkungan, Kemenkes melakukan berbagai upaya seperti pengelolaan air dan pembangunan infrastruktur. Sementara pengendalian vektor dilakukan melalui penggunaan bahan kimia dan penerapan teknologi pengendalian nyamuk.
Murti menambahkan bahwa tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas fasilitas kesehatan dan sistem surveilans. Menurutnya, deteksi dini dan pemantauan berbasis data real-time masih perlu diperkuat.
“Sistem surveilans harus lebih cepat, terintegrasi, dan mampu mendukung respons dini,” tambahnya.
Selain itu, keterlibatan masyarakat lintas sektor juga masih menjadi tantangan tersendiri.
Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 yang selaras dengan target global nol kematian dengue pada 2030.
“Strategi ini mencakup penguatan deteksi dini, tata laksana klinis, pengendalian faktor risiko termasuk vaksinasi, serta sistem informasi terintegrasi,” ujar Murti.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!