Jangan Salah Kaprah, Dokter Tegaskan Tubuh Tetap Butuh Lemak Setiap Hari

Jangan Salah Kaprah, Dokter Tegaskan Tubuh Tetap Butuh Lemak Setiap Hari

Dokter tegaskan tubuh butuh asupan lemak setiap harinya (Foto: Freepik)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Banyak orang kini memilih menghindari lemak demi menjaga berat badan dan kesehatan jantung. Lemak kerap dianggap sebagai biang kegemukan dan pemicu kolesterol tinggi. Namun, anggapan bahwa semua lemak itu berbahaya ternyata tidak sepenuhnya benar. Tubuh manusia tetap membutuhkan lemak sebagai bagian penting dari pola makan sehari-hari.

Dokter spesialis gizi, Inge Permadi, menegaskan bahwa lemak memiliki peran vital bagi tubuh, mulai dari sumber energi, pelindung organ, hingga pendukung fungsi otak dan otot. Yang perlu diperhatikan, kata dia, bukan menghilangkan lemak sepenuhnya, melainkan memilih jenis lemak yang tepat serta cara konsumsinya.

“Tubuh tetap butuh lemak setiap hari. Tapi yang harus dibatasi adalah lemak dari makanan tinggi kolesterol dan lemak jenuh,” ujar Inge.

Ia menjelaskan, lemak tidak sehat umumnya berasal dari makanan yang dikonsumsi secara berlebihan dan diolah dengan cara kurang tepat. Beberapa sumber lemak yang sebaiknya dibatasi antara lain gorengan, santan kental, kulit ayam, jeroan, gajih, kerupuk kulit, serta kuning telur jika dikonsumsi terlalu sering. Jenis makanan tersebut mengandung kolesterol dan lemak jenuh yang dapat berdampak buruk jika menjadi kebiasaan harian.

“Yang saya sebutkan itu adalah sumber kolesterol yang tidak baik untuk kesehatan kalau dikonsumsi berlebihan,” jelasnya.

Di sisi lain, Inge menekankan adanya lemak baik yang justru dianjurkan untuk dikonsumsi. Lemak sehat dapat ditemukan pada ikan, minyak zaitun atau olive oil, minyak sayur, serta kacang-kacangan seperti almond. Lemak jenis ini mengandung asam lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi kesehatan jantung dan fungsi tubuh secara keseluruhan.

Meski demikian, cara pengolahan lemak sehat juga perlu diperhatikan. Inge mengingatkan bahwa minyak seperti olive oil sebaiknya tidak digunakan untuk menggoreng. Suhu panas yang tinggi dapat merusak kandungan baik di dalamnya. “Cara konsumsinya lebih sebagai campuran, misalnya untuk dressing salad. Kalau dipakai menggoreng, sifat baiknya bisa hilang,” ujarnya.

Dalam panduan gizi seimbang, asupan lemak yang dianjurkan sekitar 30 persen dari total kebutuhan kalori harian. Angka ini menunjukkan bahwa lemak tetap memiliki porsi penting dalam menu makan, asalkan berasal dari sumber yang lebih sehat dan dikonsumsi secara bijak.

“Lemak tetap ada, tapi kita menghindari yang ada gajihnya,” kata Inge.

Dengan demikian, pola makan sehat tidak berarti bebas lemak sama sekali. Kunci utamanya adalah mengatur jenis, porsi, dan cara pengolahan. Lemak baik tetap diperlukan tubuh, sementara lemak tidak sehat sebaiknya dibatasi agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!