Pakar Ungkap Penurunan Hormon Picu Proses Penuaan

Pakar Ungkap Penurunan Hormon Picu Proses Penuaan

Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti- Aging, Prof. Wimpie Pangkahila (foto: NOVOX/Bagas Satria)

Sedang

JAKARTA, NOVOX.ID - Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti-Aging dari Universitas Udayana, Prof. Wimpie Pangkahila, menyatakan bahwa proses penuaan pada manusia erat kaitannya dengan penurunan kadar hormon dalam tubuh, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Menurut Prof. Wimpie, berkurangnya hormon bukanlah akibat dari penuaan, melainkan justru menjadi penyebab utama seseorang mengalami penuaan. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa penuaan seharusnya dipandang sebagai kondisi yang dapat dicegah dan ditangani secara medis.

“Manusia menjadi tua karena hormon menurun, bukan sebaliknya. Jika dipahami dengan benar, penuaan bisa dicegah dan diobati,” ujar Prof. Wimpie dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis 15 Januari 2026.

Ia menjelaskan bahwa hormon memiliki peran krusial dalam menjaga fungsi dasar kehidupan manusia. Proses reproduksi, kehamilan, hingga kualitas fungsi seksual sangat bergantung pada keseimbangan hormon dalam tubuh.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya peran hormon bagi kualitas hidup. Ketidaktahuan ini, menurut Prof. Wimpie, berdampak pada penurunan kesehatan secara menyeluruh seiring bertambahnya usia.

Penurunan hormon, lanjutnya, sebenarnya sudah mulai terjadi sejak usia muda dan akan terus berlanjut secara alami. Sayangnya, pola hidup tidak sehat seperti kurang tidur, pola makan buruk, serta stres berlebihan dapat mempercepat proses tersebut.

“Secara normal, hormon meningkat sejak lahir hingga sekitar usia 40 tahun. Namun, kini banyak perempuan usia 40 tahun sudah mengalami menopause lebih awal akibat gaya hidup yang tidak sehat, seperti sering begadang dan konsumsi makanan tidak bergizi,” jelasnya.

Prof. Wimpie menambahkan, proses penuaan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi ketidakseimbangan hormon, paparan radikal bebas, kerusakan DNA, sistem imun, hingga faktor genetik. Sementara faktor eksternal mencakup pola hidup, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, serta kondisi sosial ekonomi yang memengaruhi pola makan.

Ia membagi proses penuaan ke dalam tiga fase. Fase pertama adalah subklinis yang terjadi pada usia 25–35 tahun, di mana hormon seperti hormon pertumbuhan, testosteron, dan estrogen mulai menurun meski belum terlihat secara fisik.

“Pada fase ini, perubahan sering tidak disadari. Namun, beberapa perempuan pengguna kontrasepsi hormonal mulai mengalami penurunan gairah seksual karena kadar testosteron ikut menurun,” katanya.

Fase berikutnya adalah fase transisi atau klinis awal pada usia 35–45 tahun. Pada tahap ini, kadar hormon bisa turun hingga 25 persen, disertai peningkatan lemak tubuh, resistensi insulin, dan risiko penyakit jantung. Gejala lain yang muncul antara lain penurunan elastisitas kulit, pigmentasi, menopause pada perempuan, serta andropause pada pria.

Sementara itu, fase klinis lanjut terjadi pada usia di atas 45 tahun. Pada tahap ini, hormon terus menurun, kemampuan penyerapan nutrisi melemah, massa otot dan kepadatan tulang berkurang, serta risiko penyakit kronis dan gangguan fungsi seksual meningkat.

Prof. Wimpie menegaskan bahwa penurunan hormon yang tidak disadari dapat memicu berbagai keluhan yang menurunkan kualitas hidup. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat mempercepat proses penuaan dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

“Hormon yang paling terlihat kaitannya dengan penuaan, terutama fungsi seksual, adalah testosteron, estrogen, dan progesteron. Hormon lain seperti tiroid juga berpengaruh dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika tidak seimbang,” pungkasnya.

Tulis Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar!